Tinggalkan Rindu (Jangan) Tinggalkan Sampah

oleh -295 views
Wisata Bone Pololoba di Totikum, menyajikan pemandangan lempengan karang hitam dan merah pudar yang memesona, dan beberapa gua yang menarik untuk dikunjungi. [SANGALU/Ist]
Wisata Bone Pololoba di Totikum, menyajikan pemandangan lempengan karang hitam dan merah pudar yang memesona, dan beberapa gua yang menarik untuk dikunjungi. [SANGALU/Ist]

SANGALU,Luwuk– Definisi jelajah pantai yang sesungguhnya, salah satunya menelusuri kecamatan-kecamatan di wilayah Banggai Kepulauan dan Banggai Laut. Menemui pantai -pantai indah yang mengelilingi pulau. Kali ini, wisata pantai yang didatangi, berlokasi di Kecamatan Totikum.

Sebagaimana wilayah kecamatan lainnya di Banggai Kepulauan, Totikum memiliki sejumlah lokasi wisata yang layak dikunjungi.

Mulai dari danau pasang surut Tendetung yang penuh legenda, juga pantai-pantai berpasir putih nan eksotik.

Dua di antaranya, Pantai Bone Uluno Abason dan Pantai Pololoba di Desa Lopito.

Bone Pololoba dalam bahasa Banggai  artinya pantai pasir pendek. Disebut seperti itu, karena bentang pantai yang terletak tak jauh dari pemukiman warga itu tidak panjang. Berbeda dengan pantai yang membentang, sepanjang perkampungan Desa Lopito.

Untuk sampai ke Bone Pololoba, pengunjung harus melewati pos wisata yang dijaga sekelompok pemuda. Cukup membayar Rp 3000 per pengunjung untuk karcis masuknya, wisatawan sudah bisa bebas menikmati pantai ini.

Dari pos wisata itu, pengunjung melewati jalan beton kasar. Setelah melewati jembatan kayu, lanjut melintasi jalan setapak yang mendaki dan menurun. Jalur pejalan itu tidak dibeton, tetapi dibuat dengan batu dan potongan batang kelapa, sehingga aman dipijak.

Baca juga:  Air Terjun Salodik Makin Memesona

Setelah berjalan beberapa saat, akan tiba di jalan bercabang dua. Jika terus, akan sampai di pantai dengan lempengan karang karang hitam; sementara jalur lainnya turun ke Bone Pololoba.

Pantai karang hitam disebut Liatan. Lempengan karangnya memang tak beraturan, tetapi foto-fotomu di lokasi itu akan terlihat sangat instagramable.

Letaknya yang cukup jauh dari pemukiman, membuat pantai ini cocok untuk pengunjung yang ingin melepas penat di tengah sepoi angin laut, di bawah sinar mentari yang terhalang pohon kelapa dan bukit hijau.

Pengunjung  bisa memilih tiduran di hamparan pasir maupun kerikil bersih. Pun duduk di hamparan batu-batu karang, menyaksikan debur ombak memecah karang atau menghempas di pasir pantai.

“Cocok untuk me time,” tutur Astred.

Bone Pololoba identik dengan lempengan-lempengan karang berwarna merah pudar.

Lempengan karangnya cenderung ramah dipijak, tidak tajam, dan cadas seperti lempengan karang hitam di Liatan.

Mengunjungi lokasi wisata ini seperti mengunjungi pantai pribadi. Terutama saat kami berada di Liatan. Di sana, tak ada satu pun pengunjung yang terlihat datang.

Baca juga:  Hutan Pinus, Dingin, dan Sepi

Salah seorang tokoh masyarakat setempat, mantan anggota DPRD Bangkep, bahkan menawarkan untuk memetik buah kelapa di pesisir pantai itu. “Kalau mau air kelapa muda, bisa ambil dan petik sendiri,” katanya.

Tak hanya pantai dengan lempengan karang yang memesona, di Bone Pololoba juga terdapat beberapa gua yang menarik untuk dilihat.

*

Desa Lopito merupakan desa nelayan, yang lumayan padat. Penduduk desa yang menghadap Laut Maluku itu pun cukup ramah dan responsif, menerima warga yang berkunjung ke pantainya yang indah.

Pemerintah desa setempat juga cukup awas membentengi warganya dari ancaman penyebaran virus korona baru, SARS- CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 yang setahun terakhir juga merebak di daerah ini.

Bentuk kewaspadaan pemerintah desa itu setidaknya terlihat dari baliho-baliho yang isinya mengimbau warga untuk menerapkan protokol kesehatan; memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas.

Bahkan, setiap rumah menyediakan tempat cuci tangan, dengan sediaan air dan sabun. “Itu pengadaan dari pemerintah desa, dan dibagikan kepada warga,” kata pemilik warung yang ditemui.

Baca juga:  Air Terjun Kokungan Terhubung Langsung ke Laut

Pantai Bone Pololoba, Desa Lopito, Kecamatan Totikum, dapat ditempuh dalam waktu 1 sampai 1,5 jam dari Salakan, Ibu Kota Bangkep. Ada dua rute menuju pantai ini, jalur atas maupun jalan bawah. Meskipun jalannya tidak semua lebar, tetapi karena perlintasan kendaraan kurang, perjalanan pun terbilang lancar.

Namun, akses menuju pantai-pantai eksotik di wilayah kecamatan ini tentu akan lebih mudah jika pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi Sulteng di Palu, menaruh perhatian  terhadap peningkatan kualitas jalan.

Wisata Bone Bololoba di Totikum, menyajikan pemandangan lempengan karang hitam dan merah pudar yang memesona, dan beberapa gua yang menarik untuk dikunjungi. [SANGALU/Ist]
Wisata Bone Pololoba di Totikum, menyajikan pemandangan lempengan karang hitam dan merah pudar yang memesona, dan beberapa gua yang menarik untuk dikunjungi. [SANGALU/Ist]
Selain kurang lebar, beberapa titik jalan mengalami kerusakan yang cukup parah. Lubang-lubang di jalan menyulitkan pengendara kendaraan roda empat. Terutama yang menggunakan mobil sejenis city car.

Tidak hanya sempit dan berlubang, di beberapa titik jalan itu rumput liar tumbuh subur mencapai bahu jalan. Memperpendek jarak pandang, dan  tentu saja berpotensi menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Kunjungan ke Totikum untuk kedua kalinya itu, tentu saja belum cukup untuk menjelajahi pantai-pantai lainnya.

Semoga lain waktu, kesempatan itu menemukan jalannya. Seperti plank papan yang dipasang dalam pendakian ke Bone Pololoba; Tinggalkan rindu, (jangan) tinggalkan sampah. *

(ldc)

No More Posts Available.

No more pages to load.