Dari Kepala Burung sampai Beijing

oleh -402 views
Sawah terhampar di Desa Nonong, Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai, Kamis (6/5/2021]. Selain industri pengolahan, Kabupaten Banggai turut ditopang sektor pertanian. [Foto: Steven Pontoh]

SANGALU,Luwuk—Roda mobil mendarat kasar di antara himpitan pagar-pagar pabrik. Menggelinding lebih jauh, hamparan sawah menunjukkan keperkasaan di sektor pangan. Ini menjadi gambaran bahwa pertanian dan industri memang telah menjadi jantung ekonomi Kabupaten Banggai.

Gas bumi telah menjadi primadona sejak beberapa tahun lalu. Herwin Yatim turut menyasikan Banggai bergeliat, karena telah dalam pemerintahan sejak tahun 2010 saat masih menjabat wakil bupati.

Namun, kemajuan di sektor ekonomi, belum dinikmati 23 kecamatan, kondisi itu disadari Herwin Yatim sebagai kepala daerah. Karena itu, tata ruang yang menjadi pondasi, diubah agar wilayah kepala burung turut menikmati kue investasi padat modal sebagaimana di wilayah Selatan Kabupaten Banggai. “Saya mendesain tata ruang, Bualemo, Balantak Utara untuk menjadi kawasan industri. Sementara ini,” katanya.

Dengan perubahan tata ruang, Herwin berharap investor dapat membenamkan modalnya untuk membangun industri ikutan selain nikel. “Paling banyak nikel, ya sudah itu di wilayah kepala burung,” tuturnya.

Baca juga:  HMI Desak Bupati Evaluasi APBD Banggai

Listrik yang menjadi kendala utama telah diselesaikan Herwin 2 tahun lalu. Politikus PDI Perjuangan ini merayu perusahaan listrik negara agar jaringan listrik turut masuk ke Kecamatan Balantak dan Bualemo. “Sudah ada gardu-gardu sebagaimana perencanaan mereka. Itu bagian dari mendukung kegiatan jangka panjang,” katanya.

Herwin meyakini industri tanpa sokongan energi listrik, investasi tak akan berjalan mulus. Pelaku usaha tak ingin mengeluarkan modal besar hanya untuk menopang bisnisnya. “Industri akan ter-back up dengan listrik yang cukup, jika tidak nonsense,” terang kepala daerah yang memangku gelar doktor itu.

Tanpa sokongan listrik upaya Herwin Yatim menuju Beijing, Cina bisa sia-sia. Perjalanan ke luar negeri itu bersama Gubernur Sulawesi Tengah. “Mereka mau investasi besar untuk membangun smelter. Bahkan sampai 80 tungku mereka mau bangun di Banggai, di Morowali itu hanya 80 tungku,” tuturnya.

Setelah gas bumi, belakangan nikel memang muncul sebagai denyut baru ekonomi seiring tren mobil listrik. “Saya membuka pemerintahan baru, kalau bisa dilanjutkan,” ujar Herwin yang akan mengakhiri masa jabatannya 8 Juni 2021.

Baca juga:  Dandim 1308/LB Serahkan Hadiah Lomba Karya Jurnalistik TMMD 107 Tahun 2020

Tanpa perubahan tata ruang, kata dia, memungkinkan pembangunan smelter ke depan oleh para pengusaha yang telah memiliki izin usaha pertambangan. “Ini bukan pekerjaan balik telapak tangan,” jelasnya.

Dari Kecamatan Luwuk Timur sampai Balantak Selatan sepertinya memang digadang sebagai daerah pertumbuhan baru. Di tengah jalan pemerintahan Herwin Yatim-Mustar Labolo, sebuah perusahan tambak udang berinvestasi di Kecamatan Luwuk Timur, sebuah wilayah yang sejalur dengan Kepala Burung. “Saya yang ajak mereka,” katanya.

Sejak awal menjadi kepala daerah, Herwin memang getol membujuk investor agar menanamkan modalnya di daerah. Ia menjamin seluruh proses tak mengalami kendala. “Saya undang, layani. Tidak ada sama sekali mempersulit mereka, kedekatan personal itu penting,” tuturnya.

Baca juga:  Kasus Kematian Bayi di RSUD Luwuk, Resmi Dipolisikan

Lantas bagaimana dengan sektor pertanian seiring kemajuan industri gas hingga nikel? “Kita tidak boleh juga tinggalkan yang tradisional!” tegas dia.

Herwin yang berlatarbelakang insinyur mengakui, pertanian selama ini menopang ketahanan dan pangan dan perekonomian. “Kita juga dorong perhatian kita ke sana yang sudah surplus, sehingga pentingnya tata ruang untuk menjaga fungsi-fungsi ini,” katanya.

BPS Kabupaten Banggai mencatat, tahun 2019 sektor pertanian mempekerjakan 69.617 orang, kemudian yang bekerja di sektor industri pengolahan sebanyak 33.983 orang. *

 (san)