Ketika Mangrove jadi Sumber PAD di Banggai

oleh -472 views
Pengunjung mengabadikan momen saat berada di gerbang masuk Wisata Hutan Mangrove Togong Lanto, Desa Pangkalaseang, Kecamatan Balantak Utara, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. [SANGALU/ P3MD Banggai]

SANGALU, Balantak Utara – Sejak disebarluaskannya media pembelajaran sekitar pertengahan tahun 2018 ke kecamatan dan desa. Pendamping Desa dan pemerintah telah berpikir untuk menginisiasi kegiatan inovasi desa di 23 kecamatan yang ada di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

Oleh : Ansar, TA PMD Kabupaten Banggai

Pengunjung saat mengabadikan momen di lokasi Wisata Hutan Mangrove di Desa Pangkalaseang, Balantak Utara, Banggai. [SANGALU/ P3MD Banggai]
Pada suatu hari, ketika Pendamping Lokal Desa (PLD) dan Pendamping Desa Teknik Infrastruktur (PDTI) Kecamatan Balantak Utara melakukan kemping dan mancing di Desa Pangkalaseang, mereka menemukan inspirasi. Itu muncul saat mereka mancing sambil mengamati sekitar hutan mangrove, teluk dan kondisi perairan yang sangat indah.

Setelah itu, keduanya berkoordinasi dengan kepala desa untuk membicarakan ide pengelolaan hutan mangrove menjadi wisata desa. Sampai kemudian pada saat pelaksanaan Bursa Inovasi Desa tahun 2018 yang dilaksanakan di Luwuk, desa Pangkalaseang mengisi kartu komitmen dengan kegiatan Pengelolaan Potensi Hutan Mangrove menjadi Wisata Desa.

Kemudian pada saat penyusunan dokumen perencanaan dan penganggaran tahun 2019, pemerintah desa Pangkalaseang berkomitmen dengan menyediakan anggaran sebesar Rp. 258.349.450,-.

Pengunjung menikmati pemandangan hutan mangrove dan laut. [SANGALU/ P3MD Banggai]
Untuk membantu penyusunan desain dan gambar serta konsep pengembangannya, pemerintah desa dibantu oleh TPID dengan memanfaatkan dana replikasi. Sehingga lahirlah dokumen perencanaan pengelolaan Wisata Mangrove Desa Pangkalaseang.

Pada tahun 2019 dalam pelaksanaan pekerjaan Desa Pangakalaseang selalu dibantu oleh Pendamping Lokal Desa, PDTI dan Lembaga Iguana sebagai Lembaga P2KTD yang memiliki pengalaman dalam kegiatan konservasi hutan Mangrove di Kabupaten Banggai.

Pada Tahun 2019 telah dibangun jembatan titian berbahan kayu sepanjang 300 meter yang menghubungkan daratan dengan Pulau Togong Lanto dan mengintari hutan mangrove di sekitar Pulau yang berada dalam teluk yang memiliki perairan yang sangat indah dan tenang.

Menikmati keindahan alam hutan mangrove dan laut bersih. [SANGALU/ P3MD Banggai]
Konsep pengelolaan dan pengembangan Wisata Hutan Mangrove di desa ini mengusung 3 fokus yakni; Wisata Konservasi Hutan Mangrove, Edukasi Lingkungan dan Wisata Bahari yang ramah untuk keluarga.

Atraksi wisata yang dapat dilakukan di sini antara lain; selfie, menikmati keindahan laut sambil berkeliling dalam hutan mangrove, berenang di laut, mengitari Teluk dengan perahu, memancing dan menikmati kuliner tradisional hingga sajian seafood yang masih segar, hasil tangkapan nelayan sekitar lokasi wisata.

Untuk pengembangan, ke depannya akan dilaksanakan kegiatan khusus sehingga pengunjungan dapat menanam mangrove sebagai upaya edukasi dan konservasi lingkungan, termasuk kegiatan penyelamatan dan konservasi terumbu karang, kemudian laboratorium ikan endemik Kabupaten Banggai yakni Cardinal Fish yang hidup di lokasi ini.

Tersedia warung dengan beragam kuliner lokal dan seafood segar hasil pancingan warga sekitar lokasi wisata. [SANGALU/ P3MD Banggai]
Hingga saat ini, dampak yang dirasakan bagi Desa Pangakalaseang antara lain:

1. Pendapatan Asli Desa (PAD) telah ada karena sudah dikenakan tarif masuk sebesar Rp3.000/orang. Dengan rata-rata penugunjung setiap minggu mencapai 400 orang.

2. Adanya tambahan pengahasilan bagi masyarakat dengan membuka lapak makanan dan minuman di lokasi wisata.

3. Nelayan dapat menyewakan perahu kepada pengunjung untuk sekedar berkeliling di dalam teluk dan tujuan memancing.

4. Karang Taruna memiliki kegiatan sebagai pengelola fasilitas wisata termasuk parkiran.

5. Sebagai pemicu tumbuhnya ekonomi kreatif di desa ini seperti pengrajin cindera mata, oleh-oleh dan layanan wisata lainnya.

6. Lokasi wisata ini telah banyak dipublikasikan melalui media sosial dan desa Pangkalseang semakin dikenal.