48 Jam Mengapung di Laut Lepas, 12 Pemancing Asal Luwuk Selamat

oleh -1.855 views
MENGAPUNG: Dua belas pemancing asal Luwuk Banggai saat mengapung di lautan lepas ketika kapal yang mereka tumpangi terbakar, Jumat (22/11/2019). [SANGALU/ Ist]

SANGALU, Luwuk – Nasib baik masih menyambangi dua belas anglers (sebutan bagi pemancing) asal Kota Luwuk, Kabupaten Banggai. Pasalnya, mereka masih selamat meski harus mengapung sekira 48 jam di lautan lepas, usai kapal layar bermesin turbo jenis Yatch yang mereka tumpangi terbakar, lalu tenggelam di perairan Labobo, Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut, Jumat (22/11/2019).

Seperti dilansir CNAdaily.com, pengakuan pemilik kapal pesiar yang juga turut menjadi korban, Eki Tamoreka, mereka meninggalkan Yatch yang mulai terbakar akibat naiknya suhu panas di bagian mesin turbo hingga kemudian terjadi ledakan.

Saat itu mereka berada sekitar 20 mil dari Pulau Labobo Bangkurung, Kabupaten Banggai Laut, sebelum kemudian terbawa arus laut hingga ratusan Mil ke perairan Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Peristiwa tersebut terjadi pada Jumat, 22 November 2019 malam.

Baca juga:  SDIT Madani UAS secara Offline

“Kami berangkat usai salat Jumat, sekitar jam dua siang (14.00 WITA). Selanjutnya kapal bergerak menuju spot pemancingan di wilayah perairan Banggai Laut. Tinggal satu jam tiba di spot terjadi kebakaran dibagian mesin. Saat itu sekitar jam tujuh malam,” ujarnya.

Sejatinya, mereka sempat berupaya melakukan pamadaman api pada bagian mesin, namun sama sekali tidak berhasil. Akhirnya Eki pun langsung memutuskan agar semua orang meninggalkan kapal dengan perlengkapan emergency.

“Kami semua mengenakan life jacket (rompi pelampung), dan saling berpegangan menjauh dari kapal,” tutur Eki kepada CNAdaily.com mitra Sangalu.com, Kamis (28/11).

Malam itu dalam situasi mengapung, mereka berusaha tetap bersama dengan mengikatkan diri agar tidak saling terpisah, hingga keesokan pagi jelang subuh mereka berhasil menemukan rakit bambu yang hanyut.

“Semua sudah mulai lemas karena dari malam seluruh badan terendam dan tanpa bekal makanan, saya terus memotivasi agar semua bertahan dan tawakal, karena pertolongan Allah pasti datang,” ujar Ayah dua anak ini.

Baca juga:  Maleo Centre DSLNG Ciptakan Sejarah, Berhasil Tetaskan Telur F1

Siang hari, semua sudah naik ke atas rakit dan terapung-apung tanpa arah, dehidrasi akibat tidak memiliki air mineral sudah mulai terasa. Mereka pun bergantian berbaring diatas rakit 2 x 3 meter hanya untuk menghemat tenaga.

“Saat itu posisi sudah di laut lepas, tapi saya berfirasat arus mengarahkan kami ke perairan Morowali, itu dipastikan dengan beberapa kali kemunculan rombongan lumba – lumba yang memberikan petunjuk arah darat terdekat,” jelas Eki.

Malam kembali tiba, namun belum ada pula tanda-tanda bakal ada pertolongan, saat itu Sabtu malam (23/11) rasa lelah dan lapar sudah mulai menghinggapi semuanya. Saat itu, kata Eki dirinya tak henti memotivasi dan meyakinkan akan ada pertolongan kepada rekan-rekannya.

Baca juga:  Cegah Covid-19, Pemdes Liang Semprot Cairan Desinfektan

“Saya selalu ingatkan untuk tetap optimis selamat, karena saya tidak ingin ada yang sampai pingsan. Jika sampai terjadi maka akan panik,” terang Eki. “Sempat dari salah satu kami, diserang ikan Hiu sehingga terluka dibagian kaki,” imbuhnya.

Sudah memasuki hari kedua dari insiden kapal meledak, Eki bersama rekan – rekannya masih terus bertahan dirakit. Hingga akhirnya dihari kedua, Minggu (24/11) ada nelayan yang hendak menuju rumpon ikan memberikan pertolongan dan membawa kedua belas awak kapal Yatch ke daratan.

“Alhamdulillah sekitar jam enam magrib, kami tiba dengan selamat di Desa Tou, Kecamatan Moilong, sementara teman yang diserang Hiu sudah menjalani operasi di RSUD Banggai,” ujar Eki bersyukur.*

 

(cna)

Video:

Detik-detik Korban Menemukan Rakit