Flu dan Batuk, Perlukah Minum Antibiotik?

oleh -630 views
Ilustrasi Flu dan Batuk [SANGALU/ Halodoc]

SANGALU, GorontaloFlu dan batuk mungkin pernah diderita oleh seluruh masyarakat di indonesia.

Berbagai cara dilakukan untuk dapat mengatasi gangguan yang dialami, mulai dari sekedar istirahat, minum air putih, makan buah, minum vitamin bahkan mengkonsumsi antibiotik.

Pada saat ini masih banyak masyarakat yang tidak mengetahui tentang pemakaian antibiotik secara tepat dan benar, dalam hal mengatasi flu dan batuk yang dialami.

Perlu diketahui bahwa antibiotik tidaklah bisa membunuh virus melainkan antibiotik membunuh bakteri.

Beberapa contoh antibiotik yang sering digunakan bebas oleh masyarakat seperti; Amoxicillin, Ampicillin dan lainnya.

Beberapa penyakit yang kita jumpai seperti influenza, batuk, maupun diare, sebagian besar disebabkan oleh virus.

Penggunaan antibiotik harus menggunakan resep dokter tetapi pasien sering berinisiatif sendiri untuk menggunakannya.

Seharusnya antibiotik hanya diperlukan bila influenza dan pilek telah ditumpangi infeksi sekunder dari bakteri. Itupun dapat terlihat dari adanya tanda-tanda terjadinya infeksi.

Penggunaan antibiotik yang kurang tepat, dapat menyebabkan bakteri yang tadinya “lemah”, berevolusi menjadi bakteri yang “kuat” dan menjadi resisten.

Resistensi adalah keadaaan dimana bakteri kebal atau tidak terhambat pertumbuhannya melalui pemberian antibiotik dengan kadar dosis normal atau dosis yang seharusnya diberikan agar dapat menghambat pertumbuhan bakteri tersebut.

Baca juga:  Klaster PAU Bertambah, Gugus Tugas: Banggai Zona Merah

Resistensi dapat menyebabkan hilang atau menurunnya efektivitas suatu obat atau bahan kimia lainnya yang berfungsi untuk mencegah atau mengobati infeksi.

Resistensi bakteri membuat bakteri tersebut kebal terhadap antibiotik yang berfungsi untuk melawannya.

Penggunaan antibiotik juga perlu dihabiskan tidak bisa dihentikan penggunaannya ‘ketika pasien telah merasa membaik ataupun sembuh’.

Walaupun sudah merasa sembuh, pasien sebaiknya menggunakan antibiotik sesuai dengan anjuran dari dokter karena penggunaan yang tidak habis akan mengakibatkan terbunuhnya bakteri yang sensitif saja. Sedangkan bakteri yang relatif kuat masih ada.

Hal ini akan mengakibatkan bakteri yang masih hidup menjadi bakteri yang resisten atau kebal dan dapat berkembang biak serta memerlukan antibiotik yang lebih kuat, dengan artian dosisnya menjadi lebih tinggi dari sebelumnya ketika pasien mengalami infeksi.

Jika dosis digunakan kurang dari dosis efektif yang dapat menimbulkan efek terapeutik, maka obat tersebut tidak dapat menimbulkan efek terapi.

Baca juga:  Waspada! Positif Covid di Banggai Melonjak jadi 84 Orang

Penggunaan antibiotik sangat perlu dipertimbangkan, apakah perlu digunakan atau tidak.

Masyarakat/ pasien tidak boleh begitu mudah mengobati diri sendiri dengan obat antibiotik tanpa mendapatkan resep dari dokter.

Sebab sebelum pengunaan, perlu adanya diagnosa terlebih dahulu dari dokter. Dokter serta apoteker berperan sebagai tenaga kesehatan yang bekerja berkesinambungan dan lebih meningkatkan komunikasi yang efektif, serta lebih intens terkait dengan pemakaian dan penggunaan obat antibiotika.

Apoteker yang lebih memahami mengenai obat antibiotik serta indikasinya dan kegunaannya, sedangkan dokter juga harus lebih terbuka untuk dapat diingatkan jika meresepkan antibiotika secara kurang rasional atau melebihi dosis maksimal.

Oleh karena itu, hanya akan mengalami efek samping yang merugikan apabila mengonsumsi antibiotik, ketika sedang mengalami infeksi virus.

Mengonsumsi antibiotik ketika tubuh tidak memerlukannya, juga malah akan meningkatkan risiko Anda mengalami infeksi di kemudian hari.

Bahkan infeksi ini, kelak berpotensi resisten terhadap pengobatan dengan antibiotik.
Sebaiknya, jika anda mengalami flu dan batuk cobalah dulu istirahat yang cukup, minum vitamin, makan buah-buahan, banyak minum air putih, dan kalaupun flu dan batuk yang diderita tidak kunjung sembuh, segeralah ke dokter untuk memeriksa kondisi dan mendapatkan resep obat dari dokter.*

Baca juga:  Kabupaten Banggai Nominator Kabupaten Sehat

Referensi:
Tjay, T. H., dan Rahardja, K. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek Sampingnya. Edisi ke VI. Jakarta: PT Elex Media Komputindo: hal. 193
Tripathi, K. D. 2003. Antimicrobial drugs : general consideration. Essential of medical pharmacology. Fifth edition. Jaypee brothers medical publishers.
Bari, S. B., Mahajan, B. M., Surana, S. J. 2008. Resistance to antibiotic : A challenge in chemotherapy. Indian journal of pharmaceutical education and research.

 

Penulis:

Hindun Wardani, Mahasiswi Fakultas Olahraga dan Kesehatan UNG

Hindun Wardani, Putri dari Enam bersaudara lahir pada 15 April 2000. Penulis berasal dari Desa Ambelang, Kecamatan Tinangkung, Kabupaten Banggai Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tengah.

Penulis memulai pendidikan dasarnya di SDN Ambelang tahun 2006-2012, SMP Negeri 3 Tinangkung tahun 2013-2015, dan SMA Negeri 1 Tinangkung tahun 2016-2018.

Saat ini penulis berstatus sebagai Mahasiswi Farmasi Semester 6 di Fakultas Olahraga dan Kesehatan Universitas Negeri Gorontalo. Penulis dapat dengan cepat dihubungi melalui email: hindunwardani04@gmail.com No. Whatsapp: 0822-5998-3520

No More Posts Available.

No more pages to load.