Makan Kayu Lapuk dan Minum Air Hujan untuk Bertahan Hidup

oleh -1.512 views
Perahu yang digunakan Sibar Pakaya ketika hanya hingga di wilayah perairan Desa Linawan, Kecamatan Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Sibar hanyut saat memacing di perairan Kabupaten Banggai. [SANGALU/ Ist]

SANGALU, Bolmong – Ingin memancing ikan, Sibar Pakaya justru hanyut sampai ke Desa Linawan, Kecamatan Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Nelayan itu, bertahan hidup selama 4 hari di atas laut.

Istri Sibar, Romana Bailia, menuturkan, di tengah laut suaminya hanya mengunyah kayu lapuk yang ditemukan hanyut untuk menyambung hidup. Setelah itu, memakan daging cumi mentah.

“Hanya minum air hujan,” tuturnya.

Hingga Jumat (11/6) hari ini, nelayan berusia 44 tahun itu, masih berada di Desa Linawan, Kecamatan Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, untuk memulihkan diri karena kelelahan berhari-hari terombang-ambing di atas laut serta hanya makan dan minum seadanya.

Baca juga:  Nelayan Bohotokong Hilang saat Melaut, Warga hanya Temukan Perahu

“Saya bilang nanti sudah rasa boleh-boleh, baru pulang,” katanya.

Romana bercerita, suaminya itu hendak kembali ke Desa Luksagu, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) dari Desa Sobol, Kecamatan Mantoh, Kabupaten Banggai pada Minggu (6/6) pukul 15.30 Wita.

Namun, Sibar menginformasikan kepada istrinya, apabila lambat tiba, ia masih singgah memancing sebelum meneruskan perjalanan.

“Kalau tidak ada arus, 3 jam sudah tiba,” katanya.

Tetapi, hingga pukul 22.00 Wita, Sibar belum juga tiba. Namun, sang istri berpikir suaminya masih memancing, sehingga belum tiba.

“Tidak bawa HP, jadi tidak ada komunikasi,” katanya.

Romana terus menanti suaminya di pantai Desa Luksagu, Kabupaten Bangkep. Hanya saja, hingga pukul pukul 01.00 Wita belum tiba. Bahkan, hingga pukul 04.00 Wita penantian Romana di pantai sia-sia.

Baca juga:  Sejak 2017, Gadis Remaja di Toili, Dicabuli Bapak Kandung

“Biasanya orang memancing jam 12 malam sudah datang, tapi sampai jam 1 belum ada. Saya masih di pantai itu menunggu karena lihat ada lampu kilat karena dia bawa lampu kilat,” tuturnya.

Pada Senin (7/6), Romana mengubungi  keluarga Sibar di Desa Sobol, Kabupaten Banggai, tetapi menurut mereka suaminya itu telah bertolak ke Desa Luksagu.

Romana lalu meminta salah satu warga Desa Luksagu yang memiliki kapal penangkap ikan agar mencari suaminya di tengah laut, tetapi sampai seharian tidak juga ditemukan.

Baca juga:  Bagi Takjil jadi Cara Humanis Sosialisasikan Prokes

“Hari Senin jam 6 sore, saya melapor ke pemerintah desa,” katanya.

Pemerintah Desa Luksagu lalu melaporkan kejadian ini ke Kantor Pencarian dan Pertolongan Kota Palu, Selasa (8/6).

Namun, pencarian itu tak membuahkan hasil hingga hari kelima sejak hilang. Sibar akhirnya terdampar di Kecamatan Pinolosian, Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, Kamis (10/6).

Menurut Romana saat terhubung melalui telepon, Sibay mengakui, mesin ketinting yang dikemudikan tak bisa lagi dinyalakan. Di sisi lain, angin bertiup kian kencang. “Katanya dia sudah pasrah, mau ditemukan atau tidak,” katanya. *

 

(san)

No More Posts Available.

No more pages to load.