DPRD-DLH Tak Tegas soal Limbah Pabrik Kelapa di Kayutanyo

oleh -2.081 views
Limbah PT Sals and Sons menggenangi badan jalan setempat, Sabtu (12/6/2021) lalu. [SANGALU/ Fikri]

SANGALU, Luwuk – Pengelolaan limbah pabrik kelapa dalam di Desa Kayutanyo, Luwuk Timur, Kabupaten Banggai terus menuai kritik. Pemerintah daerah diminta turun tangan menyelesaikan persoalan itu.

Ketua Gabungan Aktivitas Mantailobo (GAM) Idhin Massa menyatakan, pembenahan pengelolaan limbah kelapa dalam milik PT Sals and Sons, telah beberapa kali disuarakan, tetapi enggan ditindaklanjuti Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

“Ada apa membiarkan industri yang terkesan nakal, tidak mengindahkan untuk menjaga lingkungan, terus berbuat semaunya? Ini aneh,” tegasnya, Rabu (16/6).

Ia mengungkapkan, Komisi II DPRD Banggai telah merekomendasikan agar operasional PT Sals and Sons dihentikan sementara sampai pengelolaan limbah telah sesuai regulasi. Idhin berharap lembaga perwakilan rakyat itu mendesak DLH Banggai agar rekomendasi itu ditindaklanjuti.

“Rekomendasi untuk dihentikan katanya sudah ada. Kenapa tidak bisa dihentikan dulu sampai jelas persyaratannya dipenuhi? Limbah mereka malah sekarang lebih banyak terbiar begitu saja di lingkungan sekitar,” tambah Idhin.

Baca juga:  Traveler Rusia Percaya 'Cap Tikus' Mampu Tangkal Virus Corona

DLH Banggai sebagai instansi berwenang menangani persoalan lingkungan, diharapkan Idhin Massa juga tak hanya sekadar memberi teguran tanpa ada tindakan tegas.

“Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2019 tentang Pengelolaan dan Perlindungan Lingkungan Hidup, itu jelas sudah dilanggar perusahaan. Belum ada periZinan lingkungan, tak ada penggelolaan limbah. Itu bisa jadi dasar untuk dipidanakan,” tandasnya.

Ia berharap DPRD Banggai dan DLH Banggai menyeriusi permasalahan limbah kelapa di Desa Kayutanyo.

“Tidak dibiarkan terus seperti itu. Mengingat pimpinan daerah saat ini juga sangat memperhatikan persoalan lingkungan,” tegasnya.

 

Limbah pabrik kelapa PT Sals and Sons yang menggenangi bahu jalan menuju perkampungan setempat, Sabtu (12/6/2021) lalu. [SANGALU/ Fikri]

Rekomendasi DPRD tak Digubris

Baru berjarak 200 hingga 300 meter memasuki area pabrik, aroma busuk sisa pengolahan kelapa dari PT Sals and Sons di Desa Kayutanyo, Kecamatan Luwuk Timur, sudah sangat menyengat hidung.

Baca juga:  Stay at Home, Angka Kehamilan Meningkat di Banggai

Pabrik yang mengolah kelapa menjadi tepung dan bahan makanan lainnya itu, dikelilingi parit yang meluap dengan cairan limbah sisa pengolahan.

Meluber dan terus mengarah ke sebuah lahan yang berada di depan pabrik. Mengenangi akses jalan menuju dusun 3 Bilalang yang didiami 200-an kepala keluarga.

Pemandangan di lokasi sekitar depan pabrik milik PT Sals and Sons, tak ubahnya sebuah penampungan terbuka yang cukup luas. Berkisar 200 meter persegi, limbah cair kelapa bertebaran nyaris dimana-mana.

Kondisi yang sama juga terlihat di akses jalan kedua, atau yang disebut warga sebagai jalan atas menuju Dusun 3 Bilalang.

Baca juga:  Pemda Banggai Hutang Tagihan Listrik PLN Rp1,5 M

Dimana di lokasi itu, perusahaan ini juga membuang limbahnya dengan begitu saja. Bahkan disebutkan dalam volume yang jauh lebih besar, hingga belasan ton per harinya.

Padahal sebelumnya, DPRD Banggai telah mengeluarkan rekomendasi penutupan sementara aktifitas perusahaan pengolah kelapa itu, hingga persyaratan penggelolaan limbah terpenuhi.

Termasuk terkait perijinannya yang terkuak belum dikantongi sejak awal beroperasi, beberapa tahun lalu.

Sayangnya, rekomendasi DPRD Banggai itu terbukti tak sakti bagi PT Sals and Sons. Perusahaan asal Sri Lanka itu, terus beroperasi tanpa mengindahkan rekomendasi para wakil rakyat.

Tak memenuhi syarat perijinan sesuai Undang-undang Nomor 32 Tahun 2019 tentang pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup.

Tanpa adanya penggelolaan limbah atau IPAL yang sesuai. Parahnya, limbah yang ada hanya dibuang secara sembarangan.*

(jy)