Simalakama Warga Jayabakti, Beli Gas Bersubsidi Rp40 Ribu per Tabung

oleh -196 views
Ilustrasi gas habis. [SANGALU/ Ist]

SANGALU, Pagimana – Siang itu, seorang ibu muda terlihat lunglai di jalanan Desa Jayabakti, Kecamatan Pagimana, Sulawesi Tengah. Tabung gas berwarna hijau terlihat di pelukan, Ia baru saja pulang dari salah satu pangkalan gas 3 kilogram, di wilayah berpenduduk sekira lima ribuan jiwa tersebut.

“Saya sudah mencari di beberapa tempat, tapi gas kosong,” ungkapnya lirih saat menjawab pertanyaan awak media, siang tadi (9/4).

Siskawati, nama ibu muda itu, Ia mengaku kelangkaan gas bersubsidi di desanya sudah terjadi lama. Namun, hingga kini belum ada solusi dari pemerintah terkait hal itu.

Baca juga:  Jaksa Periksa Kadis PUPR Terkait Proyek IPAL Jayabakti

Kehidupan keluarganya yang berprofesi sebagai nelayan memang sangat membutuhkan gas 3 kilogram untuk kebutuhan memasak di dapur. Sayang, gas bersubsidi itu susah didapatkan oleh masyarakat yang seyognya memang menjadi penerima manfaat.

Pengawasan lemah dari pemerintah membuat gas bersubsidi disalahgunakan oknum nakal. Agen atau pangkalan menjualnya ke para pembeli nakal, yang kemudian menjual kembali dengan harga selangit.

Di kios-kios, harga per tabungnya mencapai Rp35 ribu hingga Rp40 ribu. Padahal harga yang ditetapkan pemerintah hanya mencapai Rp19 ribu.

Terlebih, di desa terpadat dengan sekira 1.322 kepala keluarga itu hanya memiliki dua pangkalan gas bersubsidi. Itu tak cukup untuk mengakomodir kebutuhan penduduk setempat.

“Dua pangkalan di desa kami hanya memiliki kuota masing-masing 60 tabung. Jadi wajar setiap mobil penyalur masuk, selalu saja ada yang tidak kebagian gas,” tuturnya.

Baca juga:  Pamit ke Kebun, Warga Asaan Pagimana Dilaporkan Hilang

Siskawati pernah ingin membeli ke wilayah lain, seperti di Kelurahan Pagimana. Namun, keinginannya itu pupus kala penjual menyatakan bahwa hanya melayani para pembeli dengan kartu khusus.

Kartu itu disebut sebagai kartu kontrol penggunaan gas bersubsidi sehingga masyarakat kebagian merata di dua kelurahan yakni Kelurahan Basabungan dan Pagimana.

“Sudah dua minggu saya tidak dapat gas elpiji. Stok di desa kosong, sementara ke kelurahan tidak bisa karena sudah menggunakan kartu,” keluh Siska.

Baca juga:  Kades Harap Lima BPD Ampera Tepilih bisa Bersinergi

Untuk memenuhi kebutuhan di dapur, Siska mengaku terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam. Ia memutuskan membeli gas elpiji di kios agar dapurnya tetap bisa menyala. Ibarat pepatah simalakama, Siskawati tak punya pilihan lain.

Siskawati berharap pemerintah dapat segera melakukan pengawasan yang baik sehingga mampu mengeluarkan kebijakan yang tepat bagi masyarakat terkait pemerataan pembagian gas bersubsidi.*

 

(ysn)