Dilema Petani Enau, Antara Ketegasan Polisi dan Janji Pemerintah

oleh -328 views
Sejumlah jeriken berisi saguer di Desa Ampera saat dimusnahkan aparat kepolisian sektor Pagimana, Kamis (4/3) siang. [SANGALU/ Polsek Pagimana]

SANGALU, Luwuk – Pembatalan ijin minuman keras beralkohol oleh Presiden RI Joko Widodo akhirnya memupus harapan para petani enau di Kabupaten Banggai. Razia miras langsung masif, sejumlah pabrik minuman tradisional pun dihancurkan.

Seperti yang terjadi di Desa Ampera, Kecamatan Pagimana, Kamis (4/3) siang. Razia miras yang dipimpin Kapolsek Pagimana, Syukri Larau bersama sejumlah tokoh pemuda berhasil memusnahkan dua pabrik minuman tradisional ‘cap tikus’.

Selain menghancurkan pabrik cap tikus, mereka juga memusnahman air nirah atau saguer yang menjadi bahan baku pembuatan cap tikus. Jumlahnya cukup banyak yakni mencapai 40 gelon atau sekira 800 liter.

Polisi kemudian menyampaikan himbauan kepada dua pemilik pabrik cap tikus yakni LN (39) dan SB (25) untuk tidak lagi memproduksi cap tikus. Mereka disarankan untuk membuat nirah atau saguer menjadi gula aren.

Dengan begitu, hasil panen enau (saguer) tidak akan dihalangi aparat kepolisian. Sebab, gula aren juga dibutuhkan masyarakat untuk bahan baku pembuatan kue atau makanan.

Baca juga:  Usai Tegak Miras, Dua Pria Diamankan Polisi karena 'Bakacau'

Polisi juga menyampaikan hasil kajian atas sejumlah kasus gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Dimana sebagian besar kasus yang ada disebabkan oleh miras. Para pemabuk lepas kontrol hingga membuat keributan.

Satu drum saguer saat dimusnahkan aparat kepolisian sektor Pagimana, Kamis (4/3) siang. [SANGALU/ Polsek Pagimana]

Gula Aren dan Janji Pemerintah

Pada era kepemimpinan Kapolres Banggai, AKBP Benni Baehaki Rustandi SIk, penertiban minuman keras (miras) cap tikus (CT) secara massal pernah terjadi. Lokasi paling terkenal sebagai penghasil CT di Desa Laonggo, Kecamatan Bunta, pun jadi target.

Saat itu, razia dan pemusnahan pabrik CT berjalan lancar tanpa ada perlawanan, khususnya bagi warga yang memproduksi miras, Rabu (22/3/2017) silam.

Ratusan personil gabungan Polres Banggai yang dipimpin langsung oleh Kapolres Banggai AKBP Benni Baehaki Rustandi SIk, berhasil mengamankan puluhan alat produksi dan memusnahkan lokasi produksi serta ribuan liter bahan baku CT (saguer).

Baca juga:  Tak Gunakan Masker, Pelanggar Dihukum Push Up

Kala itu, Pemerintah Daerah (Pemda) Banggai di bawah kepemimpinan Bupati Banggai Herwin Yatim menjanjikan kepada masyarakat untuk mengubah produksi cap tikus ke gula aren.

Janji pemerintah akan memfasilitasi pasar gula aren pun sempat disahuti masyarakat setempat. Sayang, saat produksi berlimpah janji pembelian gula aren atau penyediaan pasarnya tak jelas. Gula aren pun menumpuk dan lambat terjual.

Para petani enau yang kecewa diam-diam kembali memproduksi miras. Alasannya, selain pasarnya jelas, pendapatan dari penjualan miras juga cukup menjanjikan.

“Lebih cepat laku dan nilai jualnya tinggi. Kalau gula merah (gula aren,red) selain produksinya ribet pasar dan harganya juga kecil,” terang NN, salah satu pembuat CT dari wilayah Kecamatan Bunta, beberapa waktu lalu.

Baca juga:  Dua Rumah Warga Balantak Selatan Roboh Diterjang Banjir

Pria ini juga mengungkapkan bahwa pemerintah pernah berjanji membantu menyediakan pabrik pembuatan etanol. Dengan begitu, hasil olahan petani enau dapat dijadikan alkohol murni untuk kebutuhan medis. Sayang, janji itu pun tak terlaksana hingga kini.

Alhasil, para petani enau pun kembali beraktifitas membuat cap tikus. Lalu, sedikit harapan muncul dengan rencana pemerintah Indonesia yang akan melegalkan minuman keras.

Tapi itu hanya sementara, sebab beberapa hari kemudian rencana itu dicabut Presiden RI Joko Widodo karena mendapatkan penolakan dari sejumlah tokoh masyarakat. Meski begitu, sebagian warga berpendapat desakan itu muncul dari para mafia miras internasional.

Karena jika miras lokal dilegalkan, maka minuman beralkohol import akan terganggu. Pasar, miras lokal jelas akan lebih cepat menyasar pembeli. Sebab harga murah dan mudah diperoleh dibanding miras import yang tak dijual bebas.*

 

(van)