Dampak Bullying, Kakak Beradik Alami Depresi hingga Dipasung Orang Tua

oleh -716 views
Camat Totikum, Irwan bersama unsur Forkopimcam saat menyambangi gubuk tempat Obi dipasung keluarganya, Senin (25/1/2021). [SANGALU/ Danpos Totikum]

SANGALU, BangkepBullying kerap menjadi candaan kita dalam keseharian, khususnya di wilayah Sulawesi Tengah. Namun, tahukah kita bahwa bullying bisa berdampak buruk pada perkembangan mental korban? Bahkan, beberapa diantaranya mengalami kejadian tak terkira seperti depresi yang dialami kakak beradik dari Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah sejak 30 tahun silam.

Alaysia Lucia Mbeuk (79), ibu dari kedua kakak beradik ini mengungkapkan kejadian bermula pada tahun 1990 ketika putranya Thobias Lepong alias Obi (53) berangkat ke Manado untuk menempuh pendidikan Strata Satu (S1). Harapan orang tua akan masa depan yang cerah dari keberangkatan Obi pun sirna kala ia kembali ke kampung halamannya. Kondisinya depresi hingga melakukan berbagai tindakan anarkis yang membahayakan jiwa orang lain.

Mulai dari memukul orang lewat di depan rumah, mengejar dengan sebilah golok hingga memukul saudara dan kedua orang tuanya. Perbuatannya itu membuat orang tuanya kebingungan. Perubahan perilaku anaknya sangat di luar batas atau tak biasa. Keraguan kedua orang tuanya pun terjawab dari beberapa kawan Obi yang sama-sama menempuh pendidikan di Manado.

Obi dikatakan menjadi bahan olok-olokan atau bullying dari beberapa rekan kuliahnya. Hal itu membuat Obi depresi hingga melakukan beragam aksi anarkis saat pulang ke kampung halaman. Karena sulit dikendalikan, orang tuanya pun berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Banggai Kepulauan. Oleh pihak Dinsos, Obi pun dikirim ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Mamboro di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Baca juga:  10 KK Kehilangan Tempat Tinggal usai Kebakaran di Banggai Kepulauan

Enam bulan kemudian, pihak RSJ Mamboro mengembalikan Obi dengan alasan Ia meminta pulang ke rumah. Orang tuanya beranggapan anaknya telah sehat. Ia pun diterima kembali di lingkungan keluarga. Sayang, belum lama kembali Obi kembali berulah. Ia mengejar warga yang melintas di jalan dengan sebilah parang. Beberapa keluarga juga dibogemnya karena berusaha menahan.

Tindakannya itu membuat kedua orang tua kewalahan. Akhirnya, keluarga bersepakat untuk memasungnya di sebuah gubuk yang telah disediakan. Terhitung sudah sekira 30 tahun Ia menempati gubuk itu dengan kaki dipasung. Badannya terlihat kurus, rambut gondrong dengan kumis tebal. Kondisi kejiwaannya masih terganggu.

Nenek Alaysia pun kembali mengungkapkan kisah anak keduanya yang juga mengalami gangguan kejiwaan. Putrinya ini bernama Nobherta Lepong (50). Wanita yang akrab disapa Nobe ini mulai mengalami gangguan kejiwaan kala kakaknya dipasung. Ia hamper setiap hari mendapatkan tekanan dari bullying teman-temannya atas kondisi sang kakak yang mengalami gangguan kejiwaan.

Depresi yang menimpa Nobe pun berlanjut. Ia akhirnya dinyatakan menjejak kakaknya. Keduanya disebut mengalami gangguan kejiwaan. Meski begitu, Nobe tidak seperti kakaknya yang kerap berlaku anarkis. Nobe hanya lebih banyak diam dan tak merespon pertanyaan orang sekitarnya.

Baca juga:  Mayat Lelaki Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Perairan Bangkep

Camat Totikum, Irwan Mayang bersama unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) atas saran dari Serma Ferry, selaku Komandan Pos Totikum Koramil 1308-10 Salakan pun menyambangi kediaman Alaysia bersama kedua anaknya itu.

Setibanya di lokasi, Irwan mengaku sebagai camat Totikum, Ia baru mengetahui ternyata ada dua warganya yang mengalami gangguan kejiwaan, bahkan dipasung. Ia juga mendengar adanya warga lain yang dipasung di wilayah Desa Salangano karena gangguan kejiwaan. Padahal, kata Irwan, pemerintah sudah mencanangkan Indonesia bebas pasung tahun 2019. Namun, ternyata di Kabupaten Banggai Kepulauan masih terdapat warganya yang dipasung karena kondisi kejiwaan. Oleh karena itu, Ia menegaskan akan berkoordinasi dengan Dinsos Banggai Kepulauan terkait proses penanganan sejumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGS) di wilayahnya.

Baca juga:  Ketua Bawaslu RI Tiba di Luwuk, Ada Apa?

“Bagaimana proses dan upaya untuk kesehatan bagi ODGJ ini akan saya koordinasikan dengan dinas terkait di Kabupaten Banggai Kepulauan. ODGJ tidak boleh dibiarkan dalam kondisi terpasung, karena dapat dikategorikan pelangaran Hak Asasi Manusia (HAM),” pungkasnya, Senin (25/1) yang diamini Kapolsek Totikum, Ipda Dicky R. Laempah.

Sementara itu, Babinsa/ Danpos Totikum, Serma J. Ferry mengatakan bahwa pihaknya sangat prihatin dengan kondisi masyarakat yang mengalami gangguan mental atau ODGJ dan harus dipasung. Ia menegaskan bahwa seyogyanya sebagai apparat TNI di wilayah Totikum, Ia tidak mengharapkan adanya warga yang mengalami pemasungan.

“Sebagai Babinsa saya tidak mengharapkan adanya pemasungan. Untuk itu, saya berharap dinas terkait dapat segera menyikapi persoalan ini. Sehingga program pemerintah terkait Indonesia bebas pasung benar-benar terwujud. Jika dibiarkan maka ini jelas adalah pelanggaran HAM,” tutupnya.*

 

(rdk)