Warga Keluhkan Suara Bising Pencucian Mobil di Kompleks Garuda

oleh -426 views
Erick Alimun SH (kiri) saat konferensi pers bersama kliennya di Rubrica, Jumat (11/12/2020). [SANGALU/ Steven Pontoh]

SANGALU, Luwuk – Keberadaan sebuah tempat pencucian mobil dikeluhkan warga setempat di kompleks Garuda. Keluhan itu sudah dilaporkan ke polisi, namun hingga kini kasusnya belum selesai.

Kuasa Hukum pengadu, Erick Ronaldo Alimun SH, mengungkapkan bahwa kliennya mengeluhkan keberadaan pencucian mobil yang mengganggu kenyamanan mereka. Suara bising mesin dan semprotan air membuat penghuni yang telah berusia 70 tahun protes.

Sadar keluhannya tak direspon pemilik usaha, tetangga usaha pencucian mobil pun mengadu ke kantor kelurahan. Oleh pihak kelurahan dimediasi. Hasilnya, pemilik usaha diperbolehkan tetap menjalankan bisnisnya dengan beberapa syarat.

Pertama, membuat pagar tembok pembatas antara tempat pencucian dengan rumah warga setempat. Kedua, memindahkan mesin penyedot air ke bagian yang agak jauh dari kamar pengadu. Ketiga, pemilik usaha diminta membuat septic tank sebagai tempat penampungan air agar tidak merembes ke jalanan atau pekarangan pengadu.

Baca juga:  Nekad, Gadis Berhijab Tabrak Motor Jambret hingga Terpental

Sayang, kesepakatan itu tidak dijalankan pemilik usaha sesuai isi perjanjian. Keributan kecil pun terjadi akibat protes atas suara bising semprotan air mengena seng yang dijadikan pagar pembatas.

Merasa tak dihargai, pengadu pun melaporkan ke Satpol PP. Oleh satuan penegak perda tersebut, dilakukan pengecekan ijin dan ternyata belum ada. Satpol PP kemudian memasang plang penutupan aktifitas pencucian mobil sementara. Namun, plang segel itu dibuka oleh pemilik usaha.

Kian memanas, kliennya pun melapor ke polisi. Meski hingga saat ini status laporannya terjeda karena pelaksanaan Pilkada, namun Erick menyebutkan bahwa ada dugaan progres laporan kliennya tidak berjalan.

Alasannya, laporan telah lama masuk, yang bersangkutan juga sudah diperiksa. Namun, belum ada tindakan jelas atas pencucian mobil yang masih berlangsung.

“Sudah pertemuan keluarga, tidak berhasil. Kemudian pertemuan dengan kelurahan, sehingga adalah keputusan bersama terkait pemindahan mesin agar tidak berada di sisi kamar. Pembuatan aliran air limbah dan tembok pembatas untuk mengurangi kebisingan. Namun, dua yang tidak dipenuhi yakni pembuatan tembok dan septic tank penampungan limbah air,” terang Erick yang diamini Indrawati Laamiri, sebagai kliennya.

Baca juga:  Komisi II DPRD Banggai Minta Operasi Pertamina EP Dihentikan Sementara

Erick mengatakan kliennya sudah melapor ke Polsek Kota Luwuk atas dugaan pemalsuan tanda tangan orang tua dari kliennya. Sebab, dalam redaksi surat yang bertanda tangan tertulis sudah almarhum.

“Kan aneh, sudah tertulis almarhum tapi bertanda tangan,” pungkasnya.

“Maka kami ambil langkah hukum. Kami sudah melapor dan kami sudah dapat SP2HP. Terakhir kami minta perkembangan kepada polisi, jawabannya sementara proses,” sambungnya.

Saat ini, kata Erick, kliennya juga sudah lapor soal dugaan pelanggaran limbah lingkungan ke Polres Banggai. Namun belum ada informasi perkembangannya. Ia juga berharap kepada Satpol PP sebagai penegak Perda dapat menjalankan tugasnya dengan baik tanpa pandang bulu.

Baca juga:  750 Paket Kemanusiaan Disebar Meratus Lines di Kabupaten Banggai

“Tidak ada kepentingan lain dari klien kami, selain ingin ketenangan. Jika kesepakatan diikuti maka sejatinya tidak ada perselisihan. Perbandingan kegiatan sebelumnya dengan yang ada saat ini jauh berbeda. Sebab, kapasitas mesinnya justru lebih besar. Kemudian pembatas tembok yang diminta hanya dibuat dengan seng. Ini membuat suara bising saat terkena semprotan air. Padahal, di sebelahnya tepat terdapat kamar klien kami yang sudah berusia 70 tahun,” paparnya.

Hingga berita ini ditayangkan, Samiun, Legislator Banggai, selaku pemilik pencucian mobil belum terkonfirmasi. Saat dihubungi via pesan singkat, Ia enggan membalas pertanyaan. Pesan terkirim hanya centang biru pertanda telah dibaca, namun tak berbalas.*

 

 

(van)