Klaster PT PAU, Kekuatan Perusahaan vs Kelemahan Gugus Tugas Banggai

oleh -1.358 views
Ilustrasi [http://pau.co.id]

SANGALU, Luwuk – Kemunculan klaster baru penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di PT Panca Amara Utama (PAU) masih menimbulkan sejumlah tanya di kalangan masyarakat Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Itu juga terjadi di Lembaga Legislatif, DPRD Banggai.

Dalam beberapa kali pertemuan atau rapat dengar pendapat yang dilakukan Komisi I DPRD Banggai bersama tiga perusahaan migas yakni DSLNG, JOB Tomori dan Pertamina EP, serta PT PAU sebagai perusahaan amoniak, terungkap sejumlah fakta atas penyebaran virus mematikan itu dari pergantian pekerja luar daerah.

Ketua Komisi I DPRD Banggai, Masnawati Muhammad dalam rapat yang dipimpinnya, 12 Agustus 2020, mengungkapkan bahwa PT PAU merupakan perusahaan yang paling bandel di antara sejumlah perusahaan yang masuk di daerahnya. Terutama dalam hal koordinasi dan pelaporan pergantian pekerja sebagaimana perjanjian antara pihak perusahaan dengan pemerintah daerah melalui instansi teknis.

Tak hanya itu, pasca terkonfirmasinya belasan karyawan positif Covid-19 berdasarkan hasil Swab, perusahaan milik Garibaldi Thohir itu semakin tidak kooperatif dalam laporan perkembangan kesehatan karyawannya. Terbukti dengan adanya sejumlah karyawan berstatus positif diterbangkan pihak perusahaan dengan mencarter pesawat komersil Sriwijaya Air (SJY5600) saat sampel swab-nya tengah diperiksa di laboratorium.

Hasilnya, saat belasan karyawan dinyatakan terkonfirmasi positiff Covid-19, para karyawan itu sudah tidak berada di daerah. Lebih parah, karena pemberangkatan karyawan terkonfirmasi dan perkembangan pemeriksaan sampel swab yang dilakukan mandiri tidak diinformasikan ke pemerintah daerah. Itu membuat pemerintah hanya memiliki sedikit data terkait perkembangan klaster PT PAU.

“Saya apresiasi ini dari perusahaan lain seperti DSLNG, kena flu saja tidak diberangkatkan. Tapi ini bapak punya (PT PAU) sudah suspek masih diterbangkan,” tandas Masnawati.

Ia mengatakan bahwa pihaknya sebagai bagian dari pemerintahan daerah tidak pernah bermaksud menghalang-halangi investasi. Namun, sikap perusahaan yang tidak kooperatif menurutnya perlu dievaluasi. Pasalnya, Dinas Kesehatan mengaku komplain karena adanya karyawan suspek yang diterbangkan pihak perusahaan ke Jakarta.

Tak hanya itu, hasil pemeriksaan sampel swab yang dilakukan mandiri oleh perusahaan sebanyak 400 orang tenaga kerja hingga saat ini belum dilaporkan pihak perusahaan ke pemerintah daerah melalui instansi terkait. Terlebih adanya pertukaran tenaga kerja pada tanggal 9 Agustus 2020 yang tidak dilaporkan ke instansi terkait. Padahal, dalam perjanjian awal yang ditandatangi perwakilan perusahaan PT PAU, seyogyanya pergantian tenaga kerja itu dilaporkan ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Baca juga:  KPU Sulteng Launching Aplikasi si MaCACA

“Tapi itu juga bapak tidak lakukan,” pungkasnya kepada Manager Security PT PAU, Romlex Siging dalam rapat, Rabu (12/8) lalu.

Masnawati juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima komplain dari pemerintah Kota Bontang atas adanya tiga karyawan yang pulang ke Bontang dan terkonfirmasi positif Covid-19. Padahal dalam laporan penerbangan, rapid test karyawan tersebut disebutkan nonreaktif. Tapi hasil pemeriksaan di Kota Bontang menyatakan terkonfirmasi positif berdasarkan hasil swab.

Baca jugaCarter Pesawat Sriwijaya, PT PAU Bawa Karyawan dan Sampel Swab ke Jakarta

Manager Security PT PAU, Romlex Siging saat memberikan keterangan dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi I DPRD Banggai, Rabu (12/8). [SANGALU/ Ist]

Karyawan Meninggal Bertambah

Jumlah karyawan PT PAU yang meninggal dunia diduga karena Covid-19 terus bertambah. Namun, pemerintah melalui tim gugus tugas kekurangan data karena minimnya laporan dari pihak perusahaan itu.

Diketahui, pada tanggal 20 Juli 2020, karyawan berinisial AG meninggal dunia, kemudian diikuti belasan karyawan sakit mendadak dan mengarah ke Covid-19. Jenazahnya diterbangkan ke kampung halaman. Kemudian, pada tanggal 23 Juli 2020 karyawan berinisial MZ juga dilaporkan meninggal dunia. Hasil swab menunjukkan terkonfirmasi positif Covid-19, diikuti 11 orang lainnya juga terkonfirmasi positif.

Tanggal 26 Juli 2020, PT PAU melakukan pengambilan sampel swab terhadap 205 tenaga kerjanya, sampel itu kemudian diterbangkan ke Jakarta. Ironinya, pihak perusahaan tak hanya menerbangkan sampel swab saja. Namun, sejumlah karyawan yang berstatus suspek (hasil swab positif) juga ikut diterbangkan dengan pesawat carter Sriwijaya Air bernomor SJY500. Seluruh karyawan terkonfirmasi positif Covid-19 dari PT PAU dalam laporan gugus tugas tengah menjalani isolasi mandiri. Lokasinya tak pernah dijelaskan.

Baca juga:  Banjir Rendam Empat Kecamatan, Satu Warga Dilaporkan Tewas

Lalu pada tanggal 1 Agustus 2020, pihak perusahaan mengumumkan bahwa dampak dari penyebaran Covid-19, PT PAU memilih shutdown/ menghentikan kegiatan selama 14 hari kedepan.

Setelah lama tak ada laporan perkembang, pada tanggal 6 Agustus 2020, PT PAU kembali melakukan pengambilan sampel swab terhadap 250 tenaga kerjanya, tapi tidak melibatkan gugus tugas setempat. Sampel itu juga diterbangkan ke Jakarta meski pemeriksaan laboratorium bisa dilakukan di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

“Diterbangkan ke Jakarta karena Palu memiliki keterbatasan di laboratoriumnya. Nanti hasilnya kita kabari,” kata Manager CSR PT PAU, Novari Mursita, beberapa waktu lalu.

Pada tanggal 12 Agustus 2020, rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPRD Banggai kembali membuka tabir klaster PAU. Pimpinan rapat, Masnawati Muhammad mengungkapkan dari laporan yang diterimanya semalam (11/8) seorang karyawan PT PAU kembali dilaporkan meninggal dunia. Namun, datanya tidak pernah dirilis gugus tugas maupun pihak perusahaan.

Baca juga: 11 Karyawan PAU Positif COVID-19, Bupati: Banggai Masih Zona Aman

Rilis Gugus Tugas Covid-19 per 13 Agustus 2020, Banggai masuk zona orange.

 

Kekuatan Perusahaan

Sebagai perusahaan besar dalam investasi di daerah, perkembangan penyebaran Covid-19 klaster PT PAU terkesan susah dipublish gugus tugas Kabupaten Banggai. Bahkan, dalam sejumlah rilisnya, gugus tugas hanya menyebutkan bahwa mereka yang terkonfirmasi positif Covid-19 berasal dari Kecamatan Batui.

Tak hanya itu, sejumlah data hasil pemeriksaan sampel swab sejak bulan Juli 2020 lalu pun tak pernah dipublish gugus tugas. Belum diketahui apakah gugus tugas telah menerima laporan data pemeriksaan atau tidak, sebab dalam beberapa pertanyaan wartawan tak pernah digubris digrub Media Center COVID-19 Banggai.

Baca juga:  Petani 53 Tahun di Tongke, Ditemukan Tewas

Padahal, jika melihat waktu pengambilan sampel swab yang dilakukan sejak 26 Juli 2020, sejatinya hasil pemeriksaan sudah ada. Dalam laporan gugus tugas pada pasien umum, biasanya hasil pemeriksaan sampel swab sudah diketahui dalam waktu sepekan saja.

Sejumlah koordinasi terkait pelaporan perkembangan tenaga kerja PT PAU yang sakit, utamanya terkait upaya pencegahan penyebaran Covid-19 pun tak jelas. Meski begitu, gugus tugas Kabupaten Banggai seakan tak memiliki kemampuan untuk menekan pihak perusahaan agar kooperatif. Semua terbuka dalam rapat dengar pendapat di DPRD Banggai. Hanya saja hasilnya masih normatif, sebab perwakilan perusahaan yang menghadiri bukan pengambil kebijakan perusahaan.

Terlebih posisi gugus tugas Kabupaten Banggai yang terkesan lemah dalam menjalankan tugasnya. Itu bisa terlihat dari pengumuman Humas Gugus Tugas Kabupaten Banggai, Nurmasita Datu Adam pada tanggal 2 Agustus 2020 yang menyatakan bahwa Kabupaten Banggai terkategori zona merah. Namun, pernyataan itu diralat tiga jam kemudian, setelah Bupati Banggai Herwin Yatim memberikan bantahan bahwa daerahnya masih zona aman.

Padahal, penggumuman gugus tugas Provinsi Sulawesi Tengah menyebutkan Kabupaten Banggai tercatat sebagai zona merah. Hanya saja, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai, DR dr Anang S. Otoluwa kemudian meluruskan perbedaan itu.

Menurut dr Anang, kedua pernyataan baik oleh humas gugus tugas maupun oleh bupati Banggai tidak salah. Ia menjelaskan benar Banggai telah ditetapkan sebagai zona merah, tapi benar juga Banggai masih terkategori zona aman.

“Kenapa tidak salah, ya karena pasien sudah tidak ada di daerah sehingga potensi penyebarannya juga kecil. Jadi keduanya benar,” kata dr Anang, (6/8) lalu.

Ia menjelaskan bahwa gugus tugas melaporkan berdasarkan data awal dimana tempat para pasien terkonfirmasi positif Covid-19. Meski begitu, karena para pasien sudah tidak berada di daerah sehingga potensi penyebarannya juga kecil.*

 

(van)