Jenazah Masih di RSUD, Ketua SBSI: Jangan Biarkan PT PAU Jadi Klaster Baru

oleh -2.162 views
Ismanto Hasan, Ketua SBSI Kabupaten Banggai

SANGALU, Luwuk – Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Kabupaten Banggai, Ismanto Hasan mendesak pemerintah melalui tim Gugus Tugas COVID-19 agar segera melakukan pemakaman terhadap karyawan PT Panca Amara Utama (PAU) yang meninggal dunia setelah hasil rapid test disebut reaktif.

Ismanto mengungkapkan meski hasil rapid test belum pasti menyatakan pasien terpapar Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), namun pemerintah dan pihak perusahaan mesti tanggap.

Perusahaan diharapkan segera melakukan pemeriksaan massal kepada seluruh karyawan, terlebih kepada mereka yang kontak erat dengan kedua karyawan yang meninggal dunia.

“Walau baru rapid test tapi ini harus diantisipasi. Jangan sampai PT PAU jadi klaster baru penyebaran COVID-19,” kata Ismanto, Sabtu (25/7).

Baca juga:  Kapolsek Toili Imbau Warga Jaga Silaturahmi Jelang Pilkada

Ismanto mengatakan sikap menutup diri management PT PAU ini seyogyanya tak bisa dibiarkan. Dengan tidak adanya keterbukaan informasi menurutnya akan semakin membuat masyarakat resah. Oleh karena itu, pemerintah diharapkan dapat menggambil langkah cepat atas situasi ini.

Baca jugaBelasan Karyawan PT PAU Dikabarkan Alami Sakit Misterius

Diketahui, setelah karyawan PT PAU berinisial AG meninggal dunia dan 12 orang dilarikan ke rumah sakit, seorang karyawan kembali dikabarkan meninggal dunia. Jenazah Supervisor perusahaan amoniak berinisial MZR (54) asal Surabaya ini dikabarkan masih di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Luwuk sejak dikabarkan meninggal dunia, Kamis (23/7) pukul 23.30 Wita. Padahal, menurut standart WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) bahwa pasien meninggal yang terindikasi mengarah ke COVID-19 harus dimakamkan sebelum 24 jam.

Meski informasi ini telah menyebar di khalayak ramai, namun pihak management PT PAU enggan berkomentar lebih. Community Development PT PAU, Leonard Hutabarat ke beberapa media menjelaskan bahwa kedua karyawannya yang meninggal bukan karena COVID-19.

Baca juga:  Soal Lokasi Perawatan, Laporan Gugus Tugas Sulteng dan Banggai Berbeda

Menurut Leonard, kedua karyawan meninggal dunia karena adanya penyakit bawaan. Karyawan pertama berinisial AG menurutnya meninggal karena adanya penyakit ginjal, sementara karyawan MZR meninggal dunia karena adanya riwayat penyakit jantung.

Anehnya, jenazah AG dikabarkan diterbangkan dengan standart COVID-19. Pun begitu dengan jenazah MZR yang juga dikabarkan akan diterbangkan dengan pesawat komersil. Sebagaimana dilansir topikterkini.com, karyawan berinisial MZR meninggal dunia beberapa saat setelah tiba di rumah sakit. Hasil tes cepat (Rapid Test) MZR menunjukkan reaktif.

Baca juga:  Tuntut Tranparansi Rekrutmen Naker, Karang Taruna Kintom Adukan Perusahaan Migas ke DPRD

Meski menyatakan bahwa karyawan PT PAU meninggal bukan karena COVID-19, namun Leonard Hutabarat mengarahkan pertanyaan wartawan terkait kondisi karyawannya ke Gugus Tugas COVID-19 Kabupaten Banggai.

“Sore pak, untuk informasinya nanti bisa ditanyakan langsung ke gugus tugas covid-19,” tulis Leonard via pesan singkat WhatsApp, Jumat (24/7) sekira pukul 17.03 Wita.*

(van)