TELADAN POLITIK KEMANUSIAAN DI TIMUR SULAWESI (Bagian I)

oleh -151 views

SANGALU, Luwuk – Hadirnya H. Amirudin Tamoreka di kancah poliitik daerah, telah mampu mengejewantahkan politik pada hakikatnya. Dimana kemanusiaanlah yang paling penting dari segala yang berkaitan dengan kepentingan politik.

Oleh : Sartun T Landego SH / LO AT-FM

Semangat H. Amir pada perpolitikan ini, haruslah mengalir di nadi perpolitikan di timur Sulawesi, khususnya di kabupaten Banggai.

Di tengah kecemasan berlebihan yang menghantam mental publik, akibat pandemi Covid-19, H. Amir tidak kehabisan cara meskipun kondisi tidak memungkinkan.

Dia terus mengekspresikan praktek politiknya, meskipun tak seberapa. Dia terus berbagi kepada masyarakat terdampak Covid-19, di beberapa daerah, khususnya kabupaten Banggai.

Kita mestinya berbangga. Ketika di timur Sulawesi ini, ada figur sepertinya.

Selain memiliki kecukupan ekonomi, sebagai pribadi mental beliau juga terbilang mapan di bidang agama dan sosial.

Baca juga:  Hadang Bupati Banggai, Nenek Ini Panjatkan Doa

Hal inilah yang mungkin menjadi penyebab H. Amir mampu mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan di dalam politik.

Soe Hok Gie pernah berkata, politik adalah barang yang paling kotor, lumpur-lumpur yang kotor. Tapi, suatu saat ketika kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.

Kita tahu bahwa lumpur adalah tempat yang selalu dihindari. Bahkan anak kecil pun selalu dilarang main di lumpur. Kecuali beberapa orang terpaksa turun ke lumpur karena dibenturkan dengan kebutuhan hidup.

Mengandalkan nafkahnya dari lumpur, seperti petani di sawah, tukang bata merah, tukang genteng, dan profesi yang berhubungan dengan lumpur. Nyemplung ke lumpur bagi sebagian orang dilakukan karena terpaksa.

Baca juga:  Amir - Furqanudin Terima Rekomendasi PAN dan PKB

Seperti telah ditulis di atas bahwa H. Amir telah cukup secara ekonomi. Bukan bermaksud membantah yang dikatakan tokoh muda Indonesia, Soe Hok Gie.

Namun jika Soe Hok Gie berkata politik itu kotor, terjun ke politik dikarenakan terpaksa karena terbentur soal kebutuhan, alasan bertahan hidup, tentu ungkapan ini tidak berlaku bagi Ir. H. Amirudin Tamoreka.

Sebab beliau telah cukup secara ekonomi. Politik bagi beliau adalah jalan pengabdian pada daerah dan orang banyak. Bukan karena terbentur soal kebutuhan dan bertahan hidup, hingga dia berpolitik. Tidak sama sekali.

Di masa-masa maraknya pencalonan pada pilkada tahun 2020, beliau tergolong banyak membantu di bidang kemanusiaan.

Baca juga:  Suparno Genjot Dapil IV Menangkan Kandidat NasDem di Pilkada 2020

Sebut saja; bencana banjir di kabupaten Sigi dan kebakaran di Toli-Toli. Gempa di Halmahera Maluku Utara,
banjir di Konawe Sulawesi Tenggara, banjir di Bojonegoro Bengawan Solo, banjir di Jakarta, sembako di Jabotabek.

Alat pelindung diri (APD) tim medis dalam penanganan Covid-19, di kabupatenTojo Una-Una, Banggai Laut, Banggai Kepulauan Sulteng, dan berbagai macam bantuan kemanusiaan di kabupaten Banggai.

Dengan sendirinya anggapan; “Apa yang dilakukan H. Amir ini, adalah hanya semata-mata untuk meraih suara pemilih di kab. Banggai”, terbantahkan dengan sendirinya.

Sebab bantuan kemanusiaan H. Amir melampaui batas-batas adiministrasi daerah pemilihan kepala daerah di kabupaten Banggai. *

(bersambung)