Pimpin Hearing , Masnawati Minta RSUD Luwuk Copot Slogan ‘Membuat si Miskin Tersenyum’

oleh -1.936 views
Ketua Komisi I DPRD Banggai, Masnawati Muhammad mengepalkan tangan usai mendengar cerita pelayanan RSUD Luwuk yang dirasakan pasien asal Bangkep, Selasa (23/6). [SANGALU/ Steven Pontoh]

SANGALU, Luwuk – Air mata Masnawati, legislator perempuan yang memimpin hearing (rapat dengar pendapat) atas dugaan kelalaian pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Luwuk terhadap salah satu pasien cesar, menitik perlahan.

Ketua Komisi I DPRD Banggai ini terlihat geram usai mendengar cerita langsung kondisi pelayanan BRSUD Luwuk yang dipaparkan oleh Basrin, suami Yustrina, pasien melahirkan yang anaknya meninggal dalam kandungan akhir pekan lalu.

Masnawati beberapa kali menutup mata yang memerah. Sebagai perempuan, naluri ibunya memuncak yang kemudian menyayangkan sikap para tenaga administrasi yang dianggap lebih mementingkan uang ketimbang nyawa pasien.

“Saya baru kali ini menangis. Saya rasa, semua yang mendengar kisah ini pun menangis. Kalau benar seperti ini tolong dicopot saja itu slogan yang diresmikan pak gubernur. Sudah tidak sesuai itu slogan ‘Membuat si Miskin Tersenyum’,” tandasnya.

Baca juga:  48 Jam Mengapung di Laut Lepas, 12 Pemancing Asal Luwuk Selamat

Legislator yang terlahir dari Dapil II pada Pileg 2019 ini pun, tertunduk. Ia tak menyangka di Kabupaten Banggai ada kejadian yang benar-benar memukul bathinnya. Dimana pihak rumah sakit diduga lebih mengutamakan uang ketimbang nyawa pasien.

“Proses tawar menawar besaran biaya operasi oleh petugas di rumah sakit itu, menunjukkan bahwa nyawa pasien dipermainkan. Ini tidak boleh terulang,” tegasnya.

Baca jugaSetelah Viral, Pihak RSUD Luwuk Akhirnya Gratiskan Biaya Operasi Pasien asal Bangkep

Keluarga Yustrina Timbil, pasien melahirkan yang bayi-nya meninggal dalam kandungan terisak usai menceritakan kejadian di RSUD Luwuk, Selasa (23/6). [SANGALU/ Steven Pontoh]

Masnawati mengatakan bahwa pembahasan seperti ini tidak boleh terulang lagi ke depannya. Sebab pemerintah seharusnya hadir dalam situasi gawat, terlebih bagi masyarakat miskin.

Baca juga:  Ketika Mangrove jadi Sumber PAD di Banggai

Ia juga mendebat pernyataan Direktur RSUD Luwuk, dr Yusran Kasim dan dr Budi bahwa si pasien memang belum terjadwal untuk dioperasi.

“Jadi yang saya tanyakan, jika memang belum terjadwal, mengapa pasien diminta puasa saat itu. Bahkan, sampai tiga hari berturut-turut. Kalau belum dijadwalkan mengapa diminta puasa?” pungkasnya.

Dengan gaya keibuannya, Ia pun memertanyakan terkait jaminan kesehatan pasien yang sudah dinonaktifkan. Mengapa pihak rumah sakit tidak berinisiatif menghubungi pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan terkait kondisi pasiennya.

“Apakah tidak bisa pihak rumah sakit atau pak dokter untuk berinisiatif menghubungi pemerintah asal pasien? Karena kita berbicara persoalan dengan taruhan nyawa ini. Tidak bisakah?” sebutnya dengan lirikan tajam ke arah dr Yusran dan rekannya.

Baca juga:  Buka Rembuk Stunting 2020, Bupati Paparkan Kiat-kiat Pencegahan

Baik dr Yusran maupun dr Budi perlahan menjelaskan posisi rumah sakit meski tak rinci dengan alasan medik yang tak bisa dibuka ke publik. Mereka tetap bersikukuh bahwa pelayanan yang diberikan rumah sakit sudah sesuai prosedur.

Meskipun keterangan yang disampaikan itu, bertolak belakang dengan pengakuan yang dirasakan langsung suami pasien. Hingga berita ini diturunkan, rapat dengar pendapat masih berlangsung dengan alot.*

(van)