Kepala RSUD Luwuk Sebut Keluarga Pasien Tolak Operasi, Basrin: Itu Bohong! 

oleh -728 views

SANGALU, Luwuk – Direktur RSUD Luwuk dr Yusran Kasim yang menyatakan langsung melakukan investigasi terkait kasus kematian bayi seorang pasien di instansi kesehatan yang dipimpinnya, memberikan keterangannya, Minggu (21/6) kemarin.

Dalam pernyataan tertulis dr Yusran yang dihubungi via WhatsApp, dirinya membenarkan bahwa pasien masuk atas nama Yustrina Timbil, yang diketahui merupakan rujukan dari wilayah kabupaten Banggai Kepulauan, dengan BPJS yang sudah tidak aktif.

Pasien itu disebutnya telah direncanakan akan menjalani operasi pada hari Kamis, 18 Juni 2020. Namun Basrin, suami pasien disebutnya memberikan penundaan operasi. Dengan alasan menunggu BPJS dari Bangkep.

“Ada tanda tangan penolakan. Setelah itu, suaminya setuju operasi besoknya (Jumat 19 Juni 2020),” kata dr Yusran, yang menambahkan dapat membuktikan penolakan itu dari bukti status pasien.

Baca juga:  Terjebak Transaksi Narkoba, Pemuda Bungin Diringkus Polisi

Ketika Radar Sultim (Sangalu Grup) meminta pihak RSUD Luwuk menggelar konferensi pers untuk menjelaskan lebih lengkap kronologis kejadian, meski tak menolaknya namun dr Yusran mengatakan bahwa pada hari Minggu kemarin, kepala ruangan dan dokter di RSUD Luwuk, tengah libur.

Baca jugaDiduga Terkendala Biaya Bersalin, Bayi Meninggal Sebelum Operasi Cesar

Yusrianti, pasien RSUD Luwuk yang diduga terlambat operasi cesar karena tak memiliki biaya masih terbaring lemah di bangsal ruang Asoka, Minggu (21/6). [SANGALU/ Jaya]
Menemui langsung Basrin dan Yustrina Timbil yang hingga kemarin masih dirawat di sebuah ruang bangsal, di ruangan Asoka RSUD Luwuk, lalu memertanyakan apakah pernyataan dr Yusran Kasim selaku pimpinan RSUD Luwuk telah sesuai, dengan tegas Basrin membantahnya.

“Itu bohong,” dengan setengah menggeram, Basrin menjawab.

Baca juga:  KRYD, Polsek Toili Amankan Sejumlah Kendaraan dan Sajam

Menurut keterangan Basrin, yang kemarin juga didampingi Mey Pangku selaku pihak keluarga, dan dua anaknya di sisi ranjang yang menjaga istrinya, pernyataan dr Yusran Kasim dinilai tak sesuai dengan perlakukan yang mereka terima, di RSUD Luwuk, dalam kejadian ini.

“Yang benar adalah saya dibohongi dan dipaksa untuk tanda tangan surat itu. Kepala ruangan memanggil saya, kemudian menyodorkan surat yang saya baca isinya berupa penolakan operasi,” lanjut Basrin.

Mempertanyakan mengapa dirinya harus menandatangani surat penolakan operasi, Basrin mengaku jika kepala ruangan di Asoka mengatakan bahwa sebenarnya itu hanyalah sekedar penundaan operasi.

“Mereka bilang ke saya, bukan penolakan. Hanya penundaan sementara untuk dioperasi. Saya tidak mau tanda tangan. Tapi mereka bilang harus ditandatangan jika mau dirawat,” ungkapnya.

Baca juga:  Suhu Tubuh WNA Perancis Pasien RSUD Luwuk turun 36° Celcius

Basrin yang hanya ‘orang kampung’ mendapat paksaan demikian, ketika istrinya tengah membutuhkan pertolongan, kemudian meminta waktu untuk mendiskusikan surat itu bersama istrinya.

“Saya kembali ke ruangan tempat istri saya. Belum sempat saya bicara dengan istri saya, kepala ruangan panggil saya kembali. Saya temui, dan dia paksa untuk tanda tangan,” ujar Basrin.

“Saya takut istri saya tidak dirawat. Mereka paksa saya tanda tangan, bilang itu hanya penundaan sementara operasi. Lalu saya pun tanda tangan,” papar Basrin.*

 

(jy)