Jalan Berlubang di Desa Bunga, Punya Siapa?

oleh -73 views

SANGALU, Luwuk – Dengan sangat berhati-hati, roda sepeda motor butut saya arahkan agar tak memasuki lubang yang tepat berada di tengah jalan, di wilayah desa Bunga, Luwuk Utara, saat hendak menuju desa Kayutanyo, Luwuk Timur, Selasa (16/6) kemarin.

Bak seorang pemain sirkus handal, saya berkelit hebat kiri kanan, seperti tengah menghindari ledakan di sebuah ladang penuh ranjau.

Namun gerakan lincah yang telah coba saya lakukan, tetap gagal. Lubang di jalan rusak itu, seorang terlatih pun saya yakini akan tetap tak mampu menghindar. Bukan hanya 10 atau 20 lubang yang ada, bahkan kondisi itu lebih mirip hamparan lubang ketimbang sebuah jalan.

Berhasil melewati medan ‘perang’ sepanjang kisaran 500 meter, dengan penuh lumpur di sepeda motor hingga sepatu dan celana panjang yang saya gunakan kemarin, saya kemudian memilih singgah sejenak. Berniat membersihkan ala kadarnya, agar tak dikira baru pulang dari membajak sawah.

Baca juga:  Kapolsek Toili Imbau Warga Jaga Silaturahmi Jelang Pilkada

Menepikan sepeda motor, saat itu seorang warga setempat yang tengah berjalan kaki, kebetulan lewat. Iseng, obrolan pun saya buka dengannya, dengan mempertanyakan kondisi jalan itu.

“So lama begini. So tahunan mungkin. Te ada juga yang mo ba perbaiki. Padahal banyak orang yang so jatuh celaka di sini,” sebut pria sekitaran 50 tahun, yang kemudian memperkenalkan namanya. Om Ridwan.

Dari penjelasan Om Ridwan, yang mengaku telah lama tinggal di sekitar jalan itu, kondisi jalan di desa Bunga ini memang telah banyak dikeluhkan warga. Bukan hanya tak menyenangkan ketika dilalui, akan tetapi juga berbahaya.

Penyebab kerusakan? Melalui keterangannya pula, saya dapatkan bahwa selain memang kualitas jalan yang kurang baik, hilir mudik sejumlah kendaraan berkapasitas besar, diduga menjadi sumber utama.

Baca juga:  Februari 2020, Inflasi Luwuk 0,06 Persen

Tak heran, membelah jalan rusak itu, di sisi kiri dan kanan jalan, memang terdapat dua gudang perusahaan yang cukup besar. Yang berhasil diketahui, salah satunya gudang penyimpanan material bangunan seperti semen dan seng, kemudian lainnya sebuah gudang penyimpanan kopra putih dan santan.

Hampir setiap hari, terang Om Ridwan, kendaraan berat dilihatnya keluar masuk di dua gudang tersebut.

Dengan aktifitas kendaraan berat di gudang-gudang itu, kemudian diyakini warga setempat ini, menjadi salah satu penyumbang kerusakan jalan.

Baca juga:  Legislator Banggai Sumbangkan Rp700 juta untuk Tangani COVID-19

“Makanya seharusnya yang punya gudang itu juga bertanggungjawab perbaiki jalan. Te hanya dipake kase keluar masuk depe barang sampe takupas-kupas, baru hanya dihaga padahal so lobang,” pinta Om Ridwan.

Dari penjelasannya, jelas warga itu mengharapkan kondisi jalan yang rusak ini juga seharusnya pengusaha pemilik gudang di areal itu, ikut bertanggungjawab. Berkontribusi agar masyarakat dapat melalui jalan dengan nyaman. Tidak seperti saya, kemarin.

Usai mengobrol dengan Om Ridwan, sebenarnya saya masih ingin mencoba mencari tahu tentang dua gudang yang disebut sebagai salah satu penyebab rusaknya jalan. Namun karena suatu keperluan mendesak, saya terpaksa melanjutkan perjalanan, dan berjanji akan kembali keesokan harinya.*

(jay)