Diduga Terkendala Biaya Bersalin, Bayi Meninggal Sebelum Operasi Cesar

oleh -1.253 views

SANGALU, Luwuk – Pedih mendalam dirasakan pasangan suami istri bernama Basrin – Yustina Timbil, asal desa Bulagi II kecamatan Bulagi, Banggai Kepulauan.

Diduga terkendala biaya persalinan saat harus menjalani operasi sesar di RSUD Luwuk, jabang bayi mereka akhirnya tak dapat diselamatkan, dan dinyatakan meninggal dalam kandungan, Jumat (19/6).

Menurut keterangan Basrin dan Yustina, Sabtu (20/6) bersama Mey Pangku, selaku pihak keluarga, menjelaskan bahwa pasangan ini tiba di RSUD Luwuk pada Selasa (16/6) setelah dirujuk dari Salakan.

Hendak menjalani operasi sesar, ternyata kartu BPJS Kesehatan sudah dinyatakan tak lagi berlaku. Akibat adanya penonaktifan BPJS kesehatan sejumlah warga di Bangkep.

“Kami sudah konfirmasi ke BPJS. Dan diakui sudah tidak aktif. Kemudian BPJS kembalikan ke RSUD dengan meminta kebijakan,” kata Mey.

Baca juga:  Hindari Karantina, Warga Tataba dari Morowali Kelabui Gugus Tugas COVID-19

Di RSUD Luwuk, kebijakan diakui sebenarnya telah diberikan. Dengan menurunkan biaya operasi dari sekitaran Rp 15 juta menjadi Rp 6.5 juta. Namun, keluarga tersebut hanya mampu menyanggupi Rp 2 juta.

“Itupun masih akan cari dipinjam dulu. Jawaban salah satu perawat, tidak bisa jika hanya segitu. Malah sempat mengomeli Basrin dengan katakan mengapa tak ada persiapan,” lanjut Mey.

“Bukannya tanpa persiapan. Mereka baru tahu BPJS mereka sudah tidak bisa dipakai di sini (RSUD Luwuk). Padahal di Salakan masih bisa, hingga dirujuk,” lanjutnya.

Upaya mencari bantuan ke Dinkes Banggai dan Dinsos Banggai, yang juga telah dilakukan pun tak membuahkan hasil. Dimana kebijakan RSUD Luwuk pun dikembalikan berdasar petunjuk 2 instansi itu.

Baca juga:  120 Desa Cairkan DD Tahap I tapi Baru 14 Desa Salurkan BLT, Ada Apa? 

Tiga kali diarahkan untuk berpuasa selama di RSUD, sebanyak tiga kali pula penbatalan operasi. Alasan yang didapatkan pihak keluarga, jika jadwal operasi masih penuh.

“Tapi kami yakin bukan penuh. Melainkan terkendala dengan biaya tadi,” tutur Mey mewakili keluarga malang itu.

Hingga akhirnya, Kamis (18/6) malam, Yustina mengalami pecah ketuban, dan dari ruang Asoka tempatnya dirawat, dilarikan ke ruang operasi. Namun penanganan baru dapat diterima pada Jumat (19/6) pagi.

Didiagnosa awal plasenta berada di bawah sehingga dirujuk untuk dioperasi, saat berada di ruang operasi detak jantung bayi diketahui berhenti berdetak.

Dr Grey, dokter spesialis kandungan yang kemudian melakukan USG, memastikan jika jabang bayi dalam kandungan Yustina, telah meninggal dunia. Operasi pengeluaran jasad bayi malang itu, kemudian dilakukan.

Baca juga:  Amankan Penetapan Nomor Urut Cakada Banggai, 119 Personil TNI-Polri Dikerahkan

“Jadi kami berkesimpulan, orang miskin jangan masuk rumah sakit kalau sakit. Seperti unggahan saya di medsos,” tegas Mey kesal.

“Karena bayi ini menurut saya pribadi, kekurangan oksigen karena ibunya sudah 3 kali diminta puasa namun tak dioperasi,” tandas Mey, yang hingga saat ini masih menemani keluarga malang, dirawat di ruang Asoka RSUD Luwuk.

Sementara itu, Kepala RSUD Luwuk dr Yusran Kasim yang langsung dikonfirmasi masalah ini, Sabtu (20/6), singkat menjawab jika masih akan mengeceknya ke ruang tempat keluarga asal Bulagi Bangkep itu dirawat.

“Sementara investigasi ke ruangan tempat pasiennya di rawat,” sebutnya.*

 

(Jy)