BLT Tersalurkan, Bupati Banggai Diapresiasi Menteri Desa Iskandar

oleh -1.141 views
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Abdul Halim Iskandar. [SANGALU/ Ist]

SANGALU, Luwuk – Bergulirnya Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang bersumber dari Dana Desa kepada masyarakat di Kabupaten Banggai, membuat Bupati Banggai Herwin Yatim diapresiasi Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Abdul Halim Iskandar.

Apresiasi itu muncul usai adanya aksi protes yang dilayangkan Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sehan Salim Landjar soal BLT. Meski mengakui bahwa persoalan BLT Dana Desa yang diprotes Bupati Boltim telah selesai. Namun, Menteri Desa Iskandar mengatakan bahwa misskomunikasi yang terjadi antara bupati Boltim dan dirinya, hanya karena bupati Boltim kurang sabar.

“Padahal, selaku menteri desa saya sudah sampaikan kepada teman-teman sejawat saya di desa yakni; para PDP/PDTI dan PLD andalan saya. Bahwa, regulasi terbit awal itu karena kedaruratan nasional. Yang mau saya lihat itu respon awal dari seluruh rakyat tentang wabah ini. Serius ndak, takut ndak, ngeri ndak?” papar Menteri Desa Iskandar melalui pesan singkat WhatsApp yang ditunjukkan Bupati Banggai Herwin Yatim kepada Jubir Winstar II, Muttaqin Suling.

Baca juga:  PMI Gelar Jumbara di HUT Kecamatan Simpang Raya ke 9 Tahun

Lanjut, dalam pesan itu, Menteri Desa Iskandar juga menyatakan bahwa respon masyarakat sangat positif. Maka, pemerintah kemudian melakukan penataan kembali terhadap seluruh regulasi. Sebagai bentuk intervensi pemerintah pusat dalam penanganan wabah COVID-19, maka digodoklah pembedahan kembali regulasi yang pas.

“Sehingga muncullah kemudian cara-cara yang efektif untuk kita laksanaman bersama. Sekarang terbukti, coba kita tengok Kabupaten Banggai sono, sudah selesai mendatakan? Sebagian udah cairkan? Malah bupatinya ikutan partisipatif datang ke desa,” tulis Mendes Iskandar.

Baca jugaLabkes PCR COVID-19 Sulteng Siap Operasi, Uji Swab Tak Perlu ke Makassar

Bupati Banggai Herwin Yatim saat menyalurkan BLT yang bersumber dari DD, Jumat (1/5). [SANGALU/ HO- Humas Pemda]
Sementara itu, Bupati Banggai Herwin Yatim kepada sangalu.com mengungkapkan bahwa pihaknya hanya berprinsip terus bekerja dan mengikuti protokoler kesehatan sesuai intruksi pemerintah pusat. Bersatu padu menghadapi pandemi COVID-19.

“Kami hindari untuk cari-cari masalah, apalagi mau marah-marah hanya karena koordinasi sesama pemerintah. Kami selalu utamakan kekeluargaan, dan tentu dengan cek langsung di lapangan,” ungkap Bupati Herwin, Sabtu (2/5) siang.

Baca juga:  Pohon Tumbang, Hambat Perjalanan Bualemo - Luwuk

Ia mengaku dalam peninjauannya ke sejumlah desa yang telah melakukan penyaluran BLT, pihaknya selalu menanyakan apa yang menjadi kendala, terutama yang berkaitan dengan upaya menghadapi tantangan virus corona di Kabupaten Banggai.

“Jawaban mereka itu, nanti jadi masukkan bagi kami pemerintah daerah. Semua masalah intinya ada di proses komunikasi,” kata Bupati Herwin.

Demikian halnya dengan proses komunikasi ke pemerintah pusat yang kini lebih efisien dengan menggunakan teknologi smartphone. Rapat dan lainnya bisa dilaksanakan dengan video call atau video conference. Proses komunikasi yang dibuka oleh pemerintah pusat dan provinsi, menurut Bupati Herwin, sesungguhnya merupakan upaya yang sangat taktis, sehingga pemerintah daerah dapat mengambil keputusan cepat dan tanggap.

“Respon cepat pemerintah itu dapat membuat masyarakat lebih tenang. Dengan demikian, imunitas masyarakat kita semakin baik dan tidak mudah tertular virus corona. Apalagi, saat ini sudah banyak bantuan dari kebijakan pemerintah provinsi dan kabupaten,” kata Bupati Herwin.

Baca juga:  Jurnalis LKBN Antara Biro Sulteng Raih Juara 1 Nasional Lomba Jurnalistik TMMD

Hingga saat ini, penyaluran BLT tercatat telah dilakukan oleh 10 desa di Kabupaten Banggai, antara lain; Desa Batu Simpang menyalurkan Rp24 juta untuk 40 kepala keluarga, Desa Lobu sebesar Rp15 juta untuk 25 kepala keluarga. Desa Sidomukti non tunai untuk 12 kepala keluarga, Desa Binotik Rp22,2 juta untuk 37 kepala keluarga.

Desa Garuga sebesar Rp25,2 juta untuk 42 kepala keluarga, Desa Louk sebesar Rp17,4 juta untuk 29 kepala keluarga. Desa Tangkiang sebesar Rp46,8 juta untuk 78 kepala keluarga, Desa Kalolos sebesar Rp61,5 juta untuk 103 kepala keluarga.

Kemudian, Desa Babang Buyangge sebesar Rp20,4 juta untuk 34 kepala keluarga, dan Desa Kampangar sebesar Rp58,2 juta untuk 97 kepala keluarga.*

(van)