Imbas Corona, Puluhan Karyawan Hotel di Banggai Terpaksa Dirumahkan

oleh -246 views
Bocah pengunjung Swissbelin Luwuk saat menikmati sajian pizza dari resto hotel, beberapa waktu lalu. [SANGALU/ Dok SANGALU]

SANGALU, Luwuk – Bencana kesehatan yang melanda dunia, termasuk Indonesia. Penyebaran pandemi yang terus bergerak ke seluruh Nusantara membuat ribuan hotel terpaksa tutup dan merumahkan karyawannya. Itu juga terjadi di Kabupaten Banggai, dimana dua hotel berbintang terpaksa merumahkan puluhan karyawan karena sepinya pengunjung.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan per hari ini sudah 1.500 hotel di seluruh Indonesia terpaksa tutup karena tak lagi ada tamu.

“Banyak hotel tutup sementara gara-gara pandemi (virus corona) ini sudah mencapai 1500 hotel,” kata pria yang akrab disapa Tama ini saat rapat kerja dengan Komisi X DPR RI melalui telekonferensi, Senin (6/4) sebagaimana dilansir finance.detikcom.

Berdasarkan data dari Badan Pengurus Daerah (BPD) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Tengah, beberapa hotel berbintang di wilayahnya telah merumahkan sebanyak 324 karyawan terpaksa dirumahkan karena pendapatan hotel yang anjlok.

Baca juga:  Kabur dari Tempat Isolasi, OTG COVID-19 Dijemput Paksa Tim Medis dan Aparat Keamanan

“Data tersebut belum termasuk hotel non bintang,” kata Ketua BPD PHRI Sulteng, Fery Taula sebagaimana dilansir sultengterkini, Senin lalu.

Fery mengungkapkan, karyawan hotel dirumahkan karena sepinya tamu serta tingkat hunian yang sangat rendah, sehingga perusahaan tidak memiliki cash flow untuk membiayai operasional, termasuk gaji.

Baca juga:

Salah satu kegiatan dengan penyewaan ruangan di Estrella Luwuk beberapa waktu lalu.[Dok SANGALU]
Hal itu juga diamini oleh General Manager Swissbelin Luwuk, dimana pemasukan hotel memang sangat menurun bahkan bisa dikategorikan sepi. Pria yang akrab disapa Ifan ini mengatakan sebagian karyawannya terpaksa dirumahkan karena ketidakmampuan untuk membayar.

“Kita tidak hanya menyediakan kamar saja tapi juga terdapat pelayanan untuk wedding, meeting dan ulang tahun. Tapi semenjak Corona semuanya dilarang,” ungkapnya.

Baca juga:  Limbah Industri PT SASL Dibuang ke TPA Bunga, Duitnya Masuk Rekening Pribadi

Ifan mengatakan di hari normal untuk pagi hari saja ada sekira tiga puluhan orang karyawan yang masuk kerja di Swissbelin Luwuk. Namun, karena situasi saat ini yang tidak memungkinkan sehingga dilakukan pemangkasan.

“Saat ini setiap pagi tinggal empat orang, padahal biasanya ada 30-an karyawan. Sekarang kita masuknya bergilir,” pungkasnya.

Ia menjelaskan meski pendapatan hotel menurun, namun tamu masih tetap ada hanya saja jauh dari jumlah tamu di hari normal.

Hal yang sama juga dirasakan sejumlah karyawan di Hotel Estrella Luwuk. Hotel yang dulunya bernama Aston tersebut, mengaku sangat terdampak oleh penyebaran pandemi ini.

“Sangat berdampak. Banyak karyawan terpaksa dirumahkan,” kata Yolanda, tanpa menjelaskan detil jumlah karyawan yang dirumahkan.

Senada dengan itu, Ali selaku salah satu manager di Hotel Santika pun mengakui hal yang sama. Ia mengatakan bahwa dampak corona sangat terasa di bisnis perhotelan. Meski begitu, Hotel Santika tidak sampai merumahkan karyawannya.

Baca juga:  1.013 Orang Masuk Banggai dari Zona Merah, 25 Mengaku Pernah Kontak dengan ODP/PDP

Ia bahkan menjelaskan bahwa Hotel Santika justru menjalankan imbauan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial, sehingga hotel tetap buka tapi secara terbatas. Tidak menerima penyelenggaraan event yang berpotensi mengumpulkan orang dalam jumlah masif.

Tidak menerima tamu grup utamanya dari zona merah. Hotel hanya buka untuk tamu reguler saja, itupun dengan jumlah kamar yang terbatas.

Pihaknya juga rutin melakukan penyemprotan desinfektan, penyediaan hand sanitizer di berbagai area publik dan pengecekan suhu tubuh secara rutin bagi tamu dan karyawan.

Meski mengaku tidak merumahkan karyawan, namun Ali menjelaskan bahwa pengurangan jumlah karyawan yang bekerja di hotel juga dilakukan. Termasuk memberlakukan kebijakan work from home untuk sebagian karyawan kontrak.*

 

(van)