Februari 2020, Inflasi Luwuk 0,06 Persen

oleh -16 views
BPS Banggai menggelar konferensi pers terkait data inflasi kota Luwuk periode Februari 2020 (foto : SANGALU)

SANGALU, Luwuk – Februari 2020, kota Luwuk mengalami inflasi 0,06 persen. Hal itu diungkapkan Kepala BPS Banggai, Muh Said, saat menggelar konferensi pers, di kantor BPS Banggai, Senin (2/3). Penyuplai tertinggi terjadinya inflasi ini, disebutkan dipengaruhi oleh kelompk makanan minuman, dalam hal ini fluktuasi kenaikan harga bawang.

Dalam rilisnya, dikatakan dari 90 kota pantauan IHK Nasional, sebanyak 73 kota mengalami inflasi dan 17 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sintang sebesar 1,21 persen dan inflasi terendah sebesar 0,02 persen terjadi di Kota Pare-Pare. Kota Tanjung Pandan mengalami deflasi tertinggi sebesar 1,20 persen, sementara Kota Padang Sidampuan mengalami deflasi terendah sebesar 0,01 persen. Kota Luwuk menempati urutan ke-16 inflasi tertinggi dikawasan Sulampua dan urutan ke-71 secara nasional.

Baca juga:

Kenaikan indeks harga terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 1,21 persen, diikuti oleh kelompok penyedia makananan dan minuman/restoran (1,14 persen), perawatan pribadi dan jasa lainnya (1,13 persen), kelompok makanan minuman dan tembakau (0,29 persen), kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,19 persen).

Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar lainnya (0.17 persen), kelompok rekreasi, olahraga dan budaya (0,06), serta kelompok pakaian dan alas kaki (0,05 persen), sedangkan kelompok transportasi mengalami penurunan indeks harga sebesar 2,29 persen, dan kelompok pendidikan serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan pada bulan ini relatif stabil.

Baca juga:  HMI Cabang Luwuk Minta KPU dan Bawaslu Prioritaskan Pemuda

Inflasi tahun kalender sebesar 0,24 persen dan inflasi year on year bulan Februari 2020 terhadap Februari 2019 sebesar 5,71 persen.

Selama Februari 2020, kota Luwuk mengalami inflasi sebesar 0,06 persen yang dipengaruhi oleh naiknya indeks harga yang terjadi pada kelompok kesehatan sebesar 1,21 persen, diikuti oleh kelompok penyedia makananan dan minuman/restoran (1,14 persen), perawatan pribadi dan jasa lainnya (1,13 persen).

Kelompok makanan minuman dan tembakau (0,29 persen), kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga (0,19 persen), kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar lainnya (0.17 persen), kelompok rekreasi, olahraga dan budaya (0,06), serta kelompok pakaian dan alas kaki (0,05 persen), sedangkan kelompok transportasi mengalami penurunan indeks harga sebesar 2,29 persen, dan kelompok pendidikan serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan pada bulan ini relatif stabil.

Pada periode yang sama, inflasi year on year kota Luwuk mencapai 5,71 persen. Kenaikan indeks year on year tertinggi terjadi pada kelompok penyedia makanan dan minuman/restoran sebesar 33,01 persen, sedangkan kelompok kesehatan mengalami kenaikan indeks terendah sebesar 2,72 persen.

Inflasi kota Luwuk sebesar 0,06 persen disumbangkan oleh andil kelompok makanan, minuman dan tembakau dan kelompok perawatan penyedia makanan dan minuman/restoran sebesar 0,09 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,08 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,02 persen, kelompok perumahan,air,listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,02 persen, serta kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,01 persen.

Baca juga:  Dorong Produktifitas Pelajar, PMI Banggai Bentuk Program 'English Comunity'

Sedangkan kelompok transportasi memberikan andil negatif sebesar 0,27 persen, kelompok pakaian dan alas kaki, kelompok rekreasi olah raga dan budaya, kelompok pendidikan, kelompok Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan relatif stabil.

Beberapa komoditas utama yang memiliki andil terhadap inflasi antara lain bawang merah (0,17 persen), bawang putih (0,15 persen), cabai merah (0,07 persen), bakso siap santap (0,06 persen), rokok kretek filter (0,05 persen), cabai rawit (0,05 persen), gula pasir (0,05 persen), martabak (0,03 persen), bahan bakar rumah tangga (0,02 persen), dan terong (0,02 persen).

Sedangkan beberapa komoditas yang memiliki andil negatif terhadap inflasi antara lain angkutan udara (0,28 persen), daging ayam ras (0,14 persen), kangkung (0,08 persen), ikan lolosi (0,05 persen), jeruk nipis/limau (0,04 persen), telur ayam ras (0,04 persen), ikan cakalang,ikan sisik (0,03 persen), ikan katamba (0,03 persen), ikan bubara (0,03 persen), dan kacang panjang (0,03 persen).

PERBANDINGAN INFLASI/DEFLASI NASIONAL DENGAN SULAMPUA

Dari 90 kota pantauan IHK nasional, sebanyak 73 kota mengalami inflasi dan 17 kota mengalami deflasi.

Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sintang sebesar 1,21 persen dan inflasi terendah sebesar 0,02 persen terjadi di Kota Pare-Pare. Kota Tanjung Pandan mengalami deflasi tertinggi sebesar 1,20 persen, sementara Kota Padang Sidampuan mengalami deflasi terendah sebesar 0,01 persen.

Baca juga:  39 Mahasiswa Akper Luwuk Diwisuda

Kota Luwuk menempati urutan ke-16 inflasi tertinggi dikawasan Sulampua dan urutan ke-71 secara nasional.

Di tingkat nasional, sebanyak 73 kota mengalami inflasi selama Februari 2020. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Sintang sebesar 1,21 persen, diikuti oleh Kota Manokwari (1,07 persen), Tanjung Selor (1,04 persen), Ternate (1,00 persen), Merauke (0,93 persen), Tanjung (0,91 persen), Mamuju (0,81 persen), Timika (0,81 persen), dan kota-kota lainnya dengan inflasi di bawah 0,80 persen.

Sementara deflasi terjadi di 17 kota yakni Tanjung Pandan (1,20 persen), Gunung Sitoli (0,73 persen), Pangkal Pinang (0,68 persen), Kendari (0,47 persen), Padang (0,29 persen), Tual (0,29 persen), Maumere (0,25 persen), Tarakan (0,25 persen), Tanjung Pinang (0,19 persen) Batam (0,15 persen) , Meulaboh (0,10 persen), dan kota-kota lainnya dengan deflasi dibawah 0,10 persen

Dari 21 kota di wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua (Sulampua), selama Februari 2020 tercatat 18 kota mengalami inflasi dan 3 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Manokwari sebesar 1,07 persen, diikuti oleh Kota Ternate (1,00 persen), Merauke (0,93 persen), Mamuju (0,81 persen) dan kota-kota lainnya dengan inflasi di bawah 0,80 persen.

Sedangkan yang mengalami deflasi yakni Kota Kendari sebesar 0,47 persen, Kota Tual sebesar 0,29 persen, Manado sebesar 0,04 persen*

(jay)