Cek Rekening Anda! Rp820 juta Dana Nasabah PT BSM Raib

oleh -1.491 views
Muh Rusdy Tahla SH, kuasa hukum empat nasabah PT Bank Syariah Mandiri saat memaparkan kasus yang dialami kliennya, Senin (25/2/2020) kepada sejumlah awak media. [SANGALU/ Ist]

SANGALU, Luwuk – Empat nasabah PT Bank Syariah Mandiri (BSM) cabang Luwuk dua tahun belakangan harus gigit jari. Pasalnya, tabungan mereka bernilai sekitar Rp820 juta raib dari rekening meski tak pernah melakukan penarikan tunai.

Muhammad Rusydi Talha SH, kuasa hukum ke empat nasabah BSM mengungkapkan kejadian itu bermula dari penawaran tabungan emas yang dilakukan oleh karyawan bank melalui program berkebun emas. Ke empat nasabah ini kemudian tertarik dan mengikuti program ini. Mereka menginvestasikan emasnya di BSM Luwuk. Pemrosesan tabungan emas itu dilakukan di dalam kantor BSM di hari kerja pada bulan Desember 2017 silam.

“Total tabungan emasnya hampir 2 kilogram menurut para korban,” kata Rusydi, Senin (25/2).

Bulan pertama berjalan lancar. Para nasabah menerima bunga tabungan emasnya. Setelah bulan kedua, muncullah masalah. Sebab, tanpa sepengetahuan nasabah sejumlah uang hasil taksasi emas yang ada dalam rekening BSM atas nama Nurlela Kasim raib.

Dua penarikan tanpa sepengetahuan nasabah PT BSM senilai Rp200 juta terdeteksi melalui print out Buku Rekening an Nurdahniar Kasim. [SANGALU/ Ist]
Pertanyaan nasabah ke pihak bank hanya dijawab akan dimediasi untuk pengembalian dana nasabah. Meski begitu mereka mengelak jika BSM memiliki program berkebun emas. Hanya saja, emas para klien ternyata ada dalam penanganan pihak bank dengan alasan dimasukkan dalam program gadai emas. Sehingga muncul rekening tabungan atas taksasi nilai emas yang dititipkan.

“Yang menjadi pertanyaan kami mengapa uang nasabah bisa ditarik dalam jumlah besar tanpa sepengetahuan nasabah,” terang Rusydi.

Baca juga:  Amir-Furqan Temui Pengurus DPD NasDem Banggai

Kasus tersebut terus berjalan sejak tahun 2018, kemudian para nasabah sempat mengadukan hal ini ke OJK Makassar, karena kala itu OJK Palu belum beroperasi diakibatkan adanya bencana alam gempa dan tsunami. Hasil audit OJK Makassar ditolak oleh pihak BSM, sehingga persoalan itu berlanjut ke OJK Pusat.

Beberapa saat kemudian, pihak BSM melaporkan mantan karyawannya berinisial SG ke Polda Sulawesi Tengah atas dugaan tindak pidana perbankkan. Kasusnya saat ini tengah bergulir dan akan disidangkan di Pengadilan Negeri Luwuk, Kabupaten Banggai.

“Sidang akan digelar, tapi itu tidak mengembalikan kerugian nasabah BSM yang menjadi klien kami,” tegas Rusydi.

Rusydi menambahkan sikap pihak BSM justru terlihat kurang baik menyikapi persoalan yang dialami nasabahnya. Padahal, kejadian itu sudah berlangsung lebih dari dua tahun. Penarikan dana sekira Rp820 juta oleh SG yang saat itu menjabat sebagai Officer Gadai menurutnya menjadi tanda tanya besar atas sistem keamanan PT. Bank Syariah Mandiri cabang Luwuk.

“Bagaimana mungkin uang itu bisa dicairkan tanpa sepengetahuan nasabah. Tanpa buku rekening dan hanya dengan tanda tangan palsu? Keamanannya dipertanyakan,” tandas Rusydi.

Masalah ini, kata Rusydi, sudah dua tahun lebih berjalan. Pihak PT BSM sendiri dianggap tidak konsisten dengan janjinya atas penyelesaian masalah ke empat nasabahnya. Bahkan, terkesan menggeser masalah ini sebagai masalah pribadi antara para nasabah dengan mantan karyawannya.

Baca juga:  Pemda Banggai Bayar Tunggakan Listrik PLN Rp1,3 Miliar

“Padahal ini kan jelas pembobolan rekening nasabah yang terjadi karena rendahnya integritas dan lemahnya sistem keamanan yang dimiliki PT BSM Cabang Luwuk,” pungkasnya.

Tak hanya itu, Rusydi juga mengomentari terkait kinerja penyidik Reskrimsus Polda Sulteng yang hanya menerapkan Pasal 63 ayat (1) huruf a UU No. 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHPidana dengan ancaman pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas tahun) dan pidana denda paling sedikit Rp10 miliar dan paling banyak Rp200 miliar.

Padahal, jelas Rusydi, penyidik bisa memasukkan Undang-undang nomor 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan ancaman maksimal 20 tahun penjara dan denda paling banyak Rp10 miliar.

“Dengan menerapkan Pasal TPPU penyidik Reskrimsus Polda Sulteng dengan mudah bisa menelusuri aliran uang (follow the money) hasil kejahatan sehingga kerugian yang dialami korban bisa segera dipulihkan,” kata Rusydi.

Rusydi juga menyatakan bahwa pihak PT Bank Syariah Mandiri Cabang Luwuk tak bisa lepas tangan atas kejadian ini. Sebab, pembobolan rekening nasabah dilakukan oleh karyawan maka otomatis pengembalian dana nasabah 100 persen merupakan tanggungjawab PT Bank Syariah Mandiri tanpa harus menunggu proses pidana yang tengah berlangsung.

Baca juga:  Sekelompok Mahasiswa dan Pemuda, Tolak Omnibus Law

“Jika pihak PT Bank Syariah Mandiri Cabang Luwuk tidak segera menyelesaikan kewajibannya mengembalikan dana atau emas Klien kami yang masih tersimpan di PT Bank Syariah Mandiri Cabang Luwuk, maka kami berencana melakukan aksi berkesinambungan di PT Bank Syariah Mandiri Cabang Luwuk sampai dana atau emas klien kami dikembalikan secara penuh,” tegas Rusydi.

“Kami berharap publik ekstra hati-hati terhadap kemungkinan berulangnya modus kejahatan semacam ini menimpa pihak lain,” sambungnya.

Ke empat nasabah PT Bank Syariah Mandiri yang menjadi klien Rusdy antara lain; Nurdahniar Kasim, Nurlela, Raden S. HI. Umar dan Moh Vikar. Hingga saat ini penyelesaian kasus atas raibnya tabungan mereka, belum ada kejelasan dari pihak Bank Syariah Mandiri.

Terpisah, Kepala PT Bank Syariah Mandiri Cabang Luwuk, Andang saat dihubungi terkait keluhan nasabahnya itu enggan berkomentar. Pertanyaan wartawan atas dugaan pembobolan rekening sekira Rp820 juta hanya dijawab singkat.

“Malam pak. Maaf nanti ketemu langsung ya. Saat ini saya lagi raker di luar kota,” tulisnya via pesan singkat WhatsApp.

Setelah itu, pesan konfirmasi lainnya hanya ceklis dan foto yang bersangkutan hilang dari profile WhatsApp.*

 

(van)