Sang Nahkoda itu Akhirnya Menyerah, Benarkah?

oleh -273 views
Ilustrasi [SANGALU/ Istock]

SANGALU, Luwuk – Kegagalan seorang nahkoda dapat dilihat dari caranya mengendalikan kapal hingga sampai ke tujuan dengan selamat. Apakah penumpangnya turun dengan bahagia atau menggerutu karena perjalanannya mengalami hambatan.

Tapi yang paling utama adalah bagaimana nahkoda mampu meyakinkan pemilik kapal bahwa dirinya masih lebih layak ketimbang lulusan baru dengan kapasitas yang sama. Cara meyakinkan bisa dilihat dari beberapa faktor.

Pertama adalah bagaimana Ia mampu menjaga stabilitas perjalanan dengan baik, sehingga penumpang nyaman dan akan berlangganan. Kedua, bagaimana Ia bisa memperlihatkan kinerja baiknya dengan perbandingan hasil terbaik antara loyalitas, pengeluaran/ operasional dan pendapatan atau profit untuk perusahaan/ pemilik kapal.

Jika semua berjalan baik, maka yakinlah posisinya akan selalu baik di mata pemilik. Ia pun akan tetap dipercaya sebagai nahkoda hingga masa pensiun. Sebaliknya, jika keseimbangan antara keduanya tidak berjalan baik, yakinlah pensiun dini segera tiba.

Sebab, nahkoda tidak akan pernah dikatakan berhasil jika setiap perjalanannya berakhir gerutu penumpang, terlebih jika tak ada setoran ke pemilik.

Apakah sampai di sini Anda bersepakat?

Nah, jika komposisi ini dikaitkan dengan posisi perhelatan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang mulai berjalan di daerah kita, maka akan menimbulkan beragam presepsi. Semua bergantung sudut pandang masing-masing pembaca.

Tim Silon Winstar saat berada di KPU Banggai, Kamis (9/1/2020). [SANGALU/ Ist]
Deja Vu Sang Nahkoda

Ini hanya semacam deja vu atau entahlah apa namanya. Namun, jika benar kabar bahwa sang pemimpin memilih jalur independen maka bisa dipastikan bahwa ini adalah kejadian berulang atau deja vu.

Kita masih ingat kondisi yang sama di tahun 2015. Kala itu, pucuk pimpinan daerah Kabupaten Banggai berada di tangan H.M. Soffian Mile. Beliau juga merupakan pucuk pimpinan DPD Partai Golkar Banggai. Namun, diujung pertarungan sesi kedua Ia terdepak dari partai yang dipimpinnya. Rekomendasi partai jatuh ke pasangan calon lain.

Baca juga:  Banggai Terancam Tak Pilkada, Mendagri: Pak Longki Tolong Ingatkan Bupati Banggai

Padahal, Ia adalah salah satu orang yang berjasa membawa partai berlogo beringin rindang itu mendapatkan 9 kursi di Parlemen Lalong. Sangat disayangkan bukan? Sebab meski berhasil mendapatkan perahu orang lain hingga bisa ikut kontestasi, namun Soffian Mile dinyatakan kalah dari mantan wakilnya, Herwin Yatim yang kala itu berpasangan dengan Mustar Labolo.

Masih ingatkan cerita itu?

Pasangan Herwin – Mustar dengan tagline Winstar kala itu disebut sebut sebagai paslon underdog, menempati posisi terakhir dalam beberapa survei. Tapi akhirnya keluar dengan hasil fantastis. Mereka memenangkan pilkada 2015 dengan perolehan suara 37,9 persen, unggul 0,2 persen dari pasangan Ma’mun – Batia (Mutiara) yang hanya memperoleh 37,7 persen. Sementara, sang petahana Soffian Mile – Sukri (Smile Suka) hanya mampu meraih 28,4 persen suara.

Uforia tim yang sebelumnya sesumbar kala itu, akhirnya terhenti. Semua tertunduk, seakan tak percaya hasil yang diumumkan KPU Banggai di bawah kepemimpinan, Irman Budahu.

Kalah memang bukan kabar baik bagi sang juara bertahan. Namun, fakta tak bisa dibantah meski mungkin bisa terulang. Herwin – Mustar dilantik dan menjabat bupati dan wakil bupati hingga kini.

Lima tahun hampir berlalu, kini saatnya kembali ke pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada). Desas-desus soal rekomendasi pun mulai menyelimuti sudut-sudut diskusi publik.

Munculnya penantang baru membuat sejumlah spekulan bermunculan. Ini mengingatkan kita akan momen yang sama di tahun 2015. Soal rekomendasi partai.

Kabar beredar, Herwin Yatim yang memilih tetap berpasangan dengan Mustar Labolo maju Pilkada Banggai 2020 memilih jalur independen. Benarkah? Kabar ini belum sepenuhnya terjawab. Hanya saja dari kedatangan tim Silon (sistem informasi pencalonan) Herwin – Mustar ke KPU Banggai, seakan membuka fakta bahwa paslon petahana ini memilih jalur independen.

Baca juga:  Hanya Obama yang Tahu Pasti Kebutuhan Rakyat Banggai

Kabar ini seakan mengembalikan kita pada posisi petahana sebelumnya. Apakah ini semacam deja vu? Entahlah. Yang pasti komposisinya nyaris sama. Sebab petahana merupakan pemimpin partai, dan mampu membawa partai berlogo banteng merah meraih 10 kursi di Parlemen Lalong. Bedanya, petahana sebelumnya masih mampu meraih simpatik partai lain, untuk mendukungnya bertarung hingga tak memilih jalur independen.

Terpisah, Makmur Manesa, sebagai salah satu Komisioner KPU Banggai tidak menampik informasi kedatangan tim Herwin – Mustar. Ia membenarkan kedatangan tim Silon paslon Herwin – Mustar untuk berkoordinasi terkait persyaratan pendaftaran calon perseorangan atau independen.

“Benar tadi kami kedatangan tim paslon Herwin – Mustar untuk koordinasi terkait persyaratan pendaftaran jalur perseorangan,” kata Makmur Manesa, Kamis (9/1/2020).

Ia menjelaskan telah menyampaikan berbagai informasi yang dibutuhkan tim Silon Herwin – Mustar. Setelah itu, pihaknya akan menunggu pendaftaran dengan persyaratan 27.757 dukungan KTP dari tanggal 19-23 Maret 2020. Setelah itu, tim verifikasi akan bekerja untuk memeriksa persyaratan dukungan dari tim paslon perseorangan.

“Masih ada masa perbaikan jika ada yang keliru. Namun, jika sampai batas waktu ditentukan tidak dapat dipenuhi, maka paslon dinyatakan gugur. Paslon juga tak dapat mendaftar kembali meski mendapatkan dukungan partai,” terang Makmur.

Ilustrasi [SANGALU/ HGW]
Satria Gerindra Bereaksi

Kabar bahwa paslon Herwin – Mustar maju melalui jalur perseorangan juga menuai polemik di internal Partai Gerindra. Ketua PC Satria Gerindra, Herman Tope yang selama ini getol mendukung Mustar Labolo sebagai ketua DPC Partai Gerindra untuk maju Pilkada Banggai, pun bersikap.

Baca juga:  Golkar ke AT-FM, Pilkada Banggai Hanya Tiga Petarung?

Pria yang akrab disapa Hertop ini memertanyakan sikap Mustar Labolo sebagai ketua partai jika kabar itu benar. Apakah Mustar lebih memilih kepentingan pribadi atau kepentingan partai yang dipimpinnya.

“Ini menjadi sebuah pertanyaan besar jika informasi itu benar. Sebab, Buya (sapaan Mustar, red) adalah ketua partai. Mengapa harus jalur perseorangan jika memiliki partai,” tanya Hertop.

Ia mengatakan sejatinya keputusan seorang ketua partai maju lewat jalur perseorangan harus melalui berbagai tahapan. Salah satunya harus dilaksanakan rapat internal. Namun, hal itu belum dilakukan tapi keputusan sudah diambil sang ketua.

“Sebagai organisasi sayap partai, saya mempertanyakan sikap itu. Saat ini saya masih berkoordinasi dengan kawan-kawan di internal Partai Gerindra,” ungkap Hertop.

Sikap Herman Tope adalah wajar. Sebab sebagai bagian dari partai, sejatinya Ia harus mengetahui keputusan krusial yang ditempuh ketuanya. Namun, semua kembali pada pribadi Mustar Labolo. Sebab, kejadian yang sama pernah dialaminya saat maju Pilkada Banggai 2015. Mustar yang kala itu didukung Partai Demokrat, hengkang saat terpilih dan menerima jabatan Ketua Partai Gerindra. Semua bisa saja terjadi.

Soal ending dari pertarungan politik pilkada Banggai 2020, kita hanya sebatas menebak. Belum ada yang pasti. Hadirnya Amir Tamoreka, Sri Indraningsih Lalusu dan Syamsulbahri Mang yang menyatakan siap maju semakin meramaikan suasana. Namun, sikap akhir siapa yang bakal bertarung masih menunggu kepastian dari pengumuman KPU Banggai.

Sebagai warga biasa, kita hanya bisa menyimak dan membantu menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat saat pesta itu berlangsung. Beda pilihan adalah hal yang lumrah, jangan jadikan pemutus tali silahturahmi. Silahkan mendukung dengan pilihan hati masing-masing tanpa paksaan.*