Ritual Tumpe, Tradisi Kerajaan Banggai Perekat Tiga Kabupaten di Sulteng

oleh -571 views
SERAHKAN TELUR: Ketua Adat Batui saat menyerahkan telur Maleo kepada Raja Banggai di Keraton Banggai, Kabupaten Banggai Laut, Rabu (4/12/2019). [SANGALU/ Ikbal]

SANGALU, Luwuk – Ritual adat tahunan pengantaran telur maleo atau tumpe yang dilaksanakan masyarakat adat Batui di Kabupaten Banggai ke Keraton Kerajaan Banggai di Kabupaten Banggai Laut merupakan bukti ikatan persaudaraan tiga kabupaten yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah.

Ritual adat yang diperkirakan telah berlangsung sejak tahun 1600 di era kepemimpinan Raja Maulana Prins Mandapar (Mbumbu Doi Godong) itu masih terjaga oleh masyarakat adat hingga saat ini.

Konon, pengantaran telur wajib dilakukan agar masyarakat adat Batui terhindar dari bencana alam. Kegiatan pengantaran telur maleo yang dimulai sejak Senin, 2 Desember 2019 ini berakhir di Keraton Banggai pada Rabu, 4 Desember 2019 menggunakan perahu dan kapal tradisional.

Sebelum diantarkan ke Keraton Banggai, telur maleo (Macrocephalon Maleo) yang dikumpulkan dari masyarakat di lima kelompok adat setempat yakni yakni Dakanyo Ende, Binsilok Balantang, Tolando, Binsilok Katudunan dan Topundat dibungkus dedaunan. Telur-telur yang telah dibungkus dengan daun pohon palem atau ‘kombonou’ tersebut lalu di antar ke rumah adat secara estafet dan diinapkan semalam. Jumlahnya ada 85 butir telur maleo.

Setelah diinapkan, maka ritual selanjutnya yakni ‘mintauakon’ atau menurunkan telur dari rumah adat dimulai, sebelum telur diantar ke dermaga oleh para pembawa telur yang didampingi para tetua adat setempat. Saat prosesi ini berlangsung, jalanan harus sepi dari aktivitas dan tidak boleh ada warga adat yang berada di depan para pengantar telur. Para pengantar telur juga tak diperkenankan berhenti di tengah jalan saat prosesi ini berlangsung.

Tabuh gendang dan gong mengiringi prosesi pengantaran telur maleo yang diikuti oleh ribuan warga dari rumah adat ke kapal yang telah disiapkan di dermaga tepat di bantaran sungai Batui.

Tiba di dermaga, telur maleo langsung dijemput oleh perangkat adat dan diletakkan di tempat khusus dalam kapal yang akan membawanya ke Keraton Banggai. Tabuh gendang dan gong kembali bersahutan kala kapal lepas labuh dengan pengawalan sejumlah perahu yang ditumpangi prajurit adat.

Perjalanan pengantaran telur maleo tidak langsung menuju Keraton Banggai di Banggai Laut. Sebab, ada prosesi penggantian pembungkus telur di perjalanan sehingga mereka harus mampir di beberapa tempat, salah satunya di wilayah Desa Pinalong, Kabupaten Banggai Kepulauan.

Baca juga:  Hasil Swab, Dua Warga Bangkep Terkonfirmasi Positif COVID-19

Setelah itu, para tetua adat melanjutkan perjalanan dan kembali singgah di rumah adat Kusali Tolo di Desa Mansalean, Kecamatan Labobo, Kabupaten Banggai Laut. Rabu, 4 Desember 2019 para pembawa telur tiba di Desa Tinakin dan bermalam di situ. Ke esokkan harinya, prosesi penjemputan telur (Malabot Tumbe) oleh perangkat adat Banggai dimulai. Tiba di dermaga Banggai, tetua adat dari Batui langsung menuju Keraton Banggai untuk melapor sebelum akhirnya menyerahkan telur maleo ke perangkat adat Banggai.

Sejarah Tumpe/Tumbe

Tumpe dalam bahasa Saluan, atau Tumbe dalam bahasa Banggai memiliki arti yang sama yakni; pertama atau awal. Demikian halnya dengan Molabot dalam bahasa Saluan dan Malabot dalam bahasa Banggai yang artinya, menjemput. Sehingga jika dikaitkan dengan prosesi pengantaran telur maleo, Molabot Tumpe/Malabot Tumbe bisa diartikan menjemput telur maleo yang pertama.

Dikutip dari laman pesonawisata.sultengprov.go.id, Kerajaan Banggai atau Benggawi pernah dipimpin oleh raja Adi Cokro atau Adi Soko (sebutan orang Banggai). Dalam sejarah hidupnya, Adi Soko memiliki tiga orang istri; yakni Kastela, wanita berdarah Portugis dari Ternate yang dari rahimnya terlahir Maulana Prince Mandapar; istri kedua ialah Nur Sapa, putri raja dari tiga kerajaan kecil bersaudara yakni Matindok, Loa dan Bolak di Batui yang melahirkan Abu Kasim.

Baca juga:  Maleo Centre DSLNG Ciptakan Sejarah, Berhasil Tetaskan Telur F1

Istri ketiganya yakni Putri bangsawan dari empat kerajaan kecil di Banggai yang kemudian melahirkan Putri Saleh. Hingga saat ini keturunan empat kerajaan di Banggai itulah yang memegang amanah sebagai Basalo Sangkab.

Suatu saat ketika Adi Soko hendak meninggalkan Batui menuju Banggai, mertuanya (Ayah dari istrinya Nur Sapa, Raja Matindok di Batui bernama Ali Asine) memberikan hadiah kepadanya berupa sepasang burung Maleo untuk dibawa ke Banggai (sekarang Kabupaten Banggai Laut).

Selanjutnya, karena suatu tugas yang diembannya, Adi Soko berangkat ke Jawa bersama anaknya Putri Saleh dengan membawa sepasang Burung Maleo dari Batui pemberian mertuanya. Kepergiannya yang cukup lama menyebabkan kekosongan kepemimpinan.

Untuk menghindari kekacauan karena kekosongan kepemimpinan, para perangkat kerajaan, pemangku adat dan keturunan dari empat kerajaan kecil di Banggai membuat rapat untuk penggantian/pengangkatan Raja Banggai yang baru pengganti Adi Soko melalui sayembara permainan adu gasing.

Dalam sayembara tersebut putranya bernama Abu Kasim, hasil perkawinannya dengan Putri Raja di Batui menjadi pemenang. Akan tetapi Abu Kasim menolak diangkat menjadi Raja, sebelum berkonsultasi kepada ayahnya Adi Soko di tanah Jawa.

Perangkat kerajaan dan pemangku adat kemudian mempersiapkan keberangkatan Abu Kasim ke tanah Jawa untuk menemui ayahnya Adi Soko bersama 40 orang bayi dan ayunan sesuai permintaan Abu Kasim.

Sesampai di tanah Jawa berbekal tanda cincin yang di berikan ayahnya, Abu Kasim akhirnya bertemu Adi Soko. Dalam pertemuan tersebut Abu Kasim menyampaikan keinginan dari pemangku adat dan masyarakat Banggai.

Hasilnya Adi Soko menolak untuk kembali ke Banggai dikarenakan tugas-tugas yang sedang diembannya di Jawa. Adi Soko memberikan petunjuk kepada Abu Kasim untuk menemui kakaknya, Maulana Prince Mandapar yang berada di Ternate. Sebab menurut penilaiannya, Mandapar adalah figur yang tepat untuk menjadi Raja Banggai.

Baca juga:  Satu Pasien di Ruang Isolasi RSUD Luwuk dalam Kondisi Baik

Ketika Abu Kasim akan kembali, Adi Soko menitip  Putri Saleh untuk dibawa ke Banggai bersama sepasang burung Maleo untuk dipelihara. Burung Maleo tersebut juga sebagai pembuktian bahwa Abu Kasim telah bertemu Ayahnya di tanah Jawa. Sepasang burung Maleo tersebut dikembalikan karena tidak dapat berkembang biak di tanah Jawa.

Maka berangkatlah Abu Kasim ke Ternate untuk menjemput kakaknya, Maulana Price Mandapar. Saat itu, Maulana Price Mandapar telah berada di atas kapal bersiap untuk berangkat ke Portugis. Dengan berbekal petunjuk cicin yang sama, Abu Kasim dapat bertemu dan membawa Maulana Price Mandapar ke Banggai.

Sekembalinya di Banggai, Abu Kasim bersama kakaknya, Maulana Prince Mandapar langsung menemui pemangku adat dan perangkat kerajaan Banggai untuk melaporkan hasil perjalanannya sekaligus menyampaikan pesan dari ayahnya Adi Soko. Maka sejak saat itu terjadilah babak baru pemerintahan kerajaan Banggai dengan dikukuhkannya, Maulana Prince Mandapar sebagai Raja Banggai.

Meski begitu, sepasang burung maleo titipan Adi Soko dari Jawa ternyata juga tidak dapat berkembang biak di Banggai. Maka Abu Kasim membawa sepasang burung maleo tersebut ke keluarganya di Batui untuk dikembangbiakkan.

Saat itu, ia menyampaikan pesan yang hingga saat ini secara turun temurun tetap dipegang teguh masayrakat adat Batui dan Banggai.
“Kutitipkan sepasang burung Maleo ini kepada keluargaku di Batui untuk dipelihara dan apabila bertelur nanti, telur pertamanya dikirimkan kepada keluargaku di Banggai dan jumlah telur Maleo yang dikirimkan ke Banggai menggambarkan jumlah keluarga di Batui”.

Semenjak burung maleo itu bertelur dan berkembang biak, sejak itu pula upacara adat Tumpe dilaksanakan dari Kecamatan Batui di Kabupaten Banggai menuju Keraton Banggai di Kabupaten Banggai Laut.*

 

(van)