Hasil Produksi UMKM Banggai Dipasarkan Keluar Sulteng

oleh -146 views
TARGET PASAR: Hasil produksi UMKM Banggai saat dipamerkan beberapa waktu lalu. Saat ini hasil produksi UMKM Banggai menyasar sejumlah provinsi di luar Sulawesi Tengah. [SANGALU/Steven Pontoh]

SANGALU, Luwuk – Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah terus mengembangkan pasarnya. Kali ini, melalui koperasi tempat mereka bernaung dibuatlah kerjasama dengan pihak ‘Buyer’ yang ada di kota Luwuk, Gorontalo hingga Makassar.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Banggai, Ernaeni Mustatim mengaku sangat mengapresiasi upaya UMKM melalui koperasi dalam peningkatan pasar atau penjualan hasil produksinya. Kerjasama antara koperasi dengan pihak buyer, kata Ernaeni, adalah salah satu upaya yang luar biasa dalam pengembangan pasar dan produksi.

“Koperasi juga harus bisa mensejahterakan anggotanya. Oleh karena itu, koperasi harus tetap sehat. Kami punya indikator untuk itu. Salah satunya ialah pelaksanaan RAT (Rapat Anggota Tahunan),” terang Ernaeni, Rabu (18/12/2019) saat memberikan sambutan dalam kegiatan temu usaha, program pengembangan ekonomi masyarakat lokal oleh PT. Donggi Senoro LNG (DSLNG).

TEKEN MoU: Perusahaan distributor dari Makassar saat menandatangani kerjasama jual beli hasil produksi UMKM Banggai, beberapa waktu lalu. [SANGALU/Steven Pontoh]
Senada dengan itu, Koordinator Penyuluh Pertanian, Eko Wardoyo, mewakili Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Banggai menyatakan rasa bangganya karena melihat perkembangan UMKM Kabupaten Banggai. Terlebih dalam pengembangannya ada peran-peran perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) seperti yang dilakukan PT. Donggi Senoro – LNG.

Kebanggaan itu semakin jadi, kala ia melihat para pengelola koperasi dan UMKM mayoritas dilakukan oleh kaum muda. Menurutnya, hal itu adalah perkembangan zaman dimana kaum milenial dituntut harus produktif.

Baca juga:  Relawan AT-FM dan Pemuda Lamo Salurkan Bantuan Bagi Korban Banjir di Lamo

Dalam usaha itu, kata Eko, yang wajib ada beberapa hal. Pertama ada produksi, ada pasar atau pembeli. Itu semakin mudah dilakukan diera digital seperti saat ini. Penjualan pun bisa dilakukan secara online dengan berbagai aplikasi yang ada.

Kerjasama usaha melalui MoU antara produsen dengan pembeli menurutnya wajib ditegaskan beberapa poin. Poin-poin penting tersebut antara lain; harus memuat besaran produksi yang wajib ditampung pembeli, sehingga produsen juga semangat dalam melaksanakan kegiatannya karena tahu sudah ada pembeli pasti.

Sebaliknya, pembeli atau pihak buyer juga diberi jaminan berapa produk yang akan mereka terima.

“Milenial saat ini sudah sangat baik dalam memasarkan produknya melalui teknologi digital. Memanfaatkan internet dan aplikasi toko online yang ada. Jadi tinggal menjaga kontinuitas dan kualitas produksi,” paparnya.

Ia juga menjelaskan untuk hasil pertanian dan perikanan harus cerdik dalam menyiasati musim produksi, sehingga produk bisa terus berkelanjutan dalam pemasarannya. Sebab dalam produksi pertanian dan perikanan tentunya terdapat musim tertentu dimana produksi tidak dapat dipaksakan. Jika UMKM Banggai berkembang, maka perekonomian daerah akan meningkat.

Baca juga:  Bosan Menagih Janji Perbaikan, Warga Blokade Jalan di Luwuk Timur

“Ayo tumbuhkan mental usaha bukan mental mencari kerja. Milenial itu harus kreatif,” tegasnya.

SEPAKAT: Perusahaan distributor dari Makassar usai menandatangani kerjasama jual beli hasil produksi UMKM Banggai, beberapa waktu lalu. [SANGALU/Steven Pontoh]
Sementara itu, Senior Manager Relations & Communication PT. DSLNG, Shakuntala Sutoyo, mengatakan total UMKM binaan PT. DSLNG terdiri dari tiga bidang usaha. Pertama binaan perusahaan dari bidang perikanan, kedua dari bidang pertanian dan ketiga dari produk UMKM yang tergabung dalam Asosiasi Pelaku Usaha Mikro (Aspum).

Untuk bidang perikanan, melalui Koperasi Perikanan Mitra Bahari Bakindo melakukan kerjasama dengan CV. Indotropic Fisherry untuk pemasaran ikan dasar dan gurita yang legal. Kerjasama kedua dari koperasi ini juga dilakukan bersama pengusaha asal Makassar, Sulawesi Selatan yang fokus pada pemasaran ikan teri kering ke wilayah timur Indonesia, termasuk Papua.

Kemudian di bidang pertanian, ada Koperasi Momposaangu Tanga Nulipu yang bekerjasama dengan pengusaha asal Gorontalo dalam pembelian hasil pertanian berupa Cabai Gorontalo. Untuk usaha yang satu ini, telah terjadi kesepatakan sejak beberapa lalu. Bahkan, untuk bulan November 2019, pihak koperasi telah mengirimkan cabai Gorontalo sebanyak 8 ton.

“Seminggu bisa dikirim satu sampai dua ton ke Gorontalo. Mereka hanya meminta cabainya jangan dicampur,” kata Shakuntala.

Baca juga:  Lima Kontraktor Asal Sulsel Garap Proyek RSUD Senilai Rp12,9 Miliar

Selain dengan pengusaha asal Gorontalo, kerjasama di bidang pertanian juga dilakukan dengan pengusaha asal Toili. Setiap minggunya, penjualan ke wilayah Toili mencapai 200 kilogram.

Kemudian untuk bidang home industri yang dikelola oleh Aspum melakukan kerjasama dengan All Swalayan. Produk yang dipasarkan antara lain snack dan olahan makanan dari para pelaku usaha kecil. Dengan begitu, diharapkan All Swalayan bisa menjadi salah satu pusat penjualan ole-ole khas Kabupaten Banggai.

Selain penjualan ke All Swalayan, penjualan produksi home industri juga dilakukan secara online melalui e-commers. Shakuntala menjelaskan sejatinya tahun 2019 PT. DSLNG melalui program CSR sejatinya belum melirik Aspum. Hanya saja, dari para pelaku usaha begitu gigih sehingga di pertengahan jalan kemudian muncullah Aspum yang dapat menampung dan menangani pemasaran dari hasil produksi kelompok-kelompok usaha masyarakat.

“Saya berterima kasih juga kepada para pengusaha yang siap bekerjasama. Baik dari Luwuk, Gorontalo maupun Makassar. Harapan kami dengan adanya kerjasama ini produksi para pelaku usaha dapat meningkat sehingga mampu menggerakkan perekonomian Kabupaten Banggai,” tutupnya.*

 

(van)