Maleo Centre DSLNG Ciptakan Sejarah, Berhasil Tetaskan Telur F1

oleh -733 views
SEJARAH BARU: Anakan Maleo hasil penetasan telur F1 yang berada di ruang inkubator Maleo Centre DSLNG, Selasa (12/11) sore. [Foto: SANGALU/ Steven Pontoh]

SANGALU, Luwuk – Setelah enam tahun melakukan konservasi dan penelitian terhadap hewan endemik Sulawesi, Macrocephalon maleo di penangkaran Maleo Centre PT. Donggi – Senoro LNG (DSLNG), sejarah baru pun terlahir meski dengan bantuan inkubator. Telur hasil penangkaran maleo berhasil menetas.

Disebut sejarah baru karena telur yang menetas merupakan hasil konservasi ex situ di Maleo Centre PT. DSLNG. Dimana awalnya, telur hasil sitaan BKSDA tahun 2013 diberikan ke Maleo Centre untuk ditetaskan melalui inkubator, hasilnya separuh dilepasliarkan dan 16 pasang lainnya dipelihara dalam penangkaran sebagai bahan konservasi dan penelitian.

Nah setelah empat tahun, maleo tersebut akhirnya bertelur pertama kalinya pada tahun 2018. Namun telur tersebut pecah dan tak terselamatkan karena dipatok maleo lainnya.

Penjaga Maleo Centre DSLNG, Mustar Hasan, mengemukakan bahwa sejarah baru itu berawal dari penemuan telur pada tanggal 24 Agustus 2019 lalu. Telur yang ditemukan pagi sekira pukul 06.30 Wita itu langsung diselamatkan dan dimasukkan ke inkubator. Itu adalah telur kedua dari penangkaran. Hasilnya, 79 hari kemudian, tepatnya hari ini, telur tersebut akhirnya menetas.

Baca juga:  Bupati Banggai Tunjukkan Kedekatan Emosional dengan KPK RI

“Ini adalah telur kedua yang kami temukan dan berhasil selamat. Telur pertama ditemukan sudah pecah dipatok maleo lainnya. Telur ketiga dan keempat juga tidak selamat,” terang Mustar Hasan, Senin sore.

Mustar Hasan menjelaskan sejak Ia bekerja terhitung sudah empat kali maleo bertelur, dan itu baru terjadi di tahun 2018 dan 2019. Artinya, butuh waktu empat sampai lima tahun baru bisa maleo bereproduksi dalam penangkaran.

“Saat ini anak maleo hasil penetasan itu masih dalam proses pengeringan dan perontokan bulu. Setelah tiga hari, maleo diperkirakan sudah bisa berlari dan diberi asupan makanan air gula dan kemiri,” tuturnya.

SEHAT: Anakan Maleo hasil penetasan telur F1 di Maleo Centre DSLNG terlihat sehat dan aktif, Rabu (13/11). [Foto: SANGALU/ HO-DSLNG]
Media Relations Officer DSLNG, Rahmat Azis mengungkapkan menetasnya telur generasi pertama Filial Satu (F1) dari penangkaran telur atau generasi pertama hasil konservasi ex situ tersebut merupakan sejarah baru. Hal itu, kata Rahmat, menjadi kebahagiaan tersendiri sebab Maleo Centre PT. DSLNG bisa memberikan sumbangsih besar pada dunia ilmu pengetahuan dan penelitian.

Baca juga:  Wakili Sulteng, Kayla Raih Dress Terbaik

“DSLNG membuktikan konsistensi program CSR di bidang lingkungan hidup selama enam tahun telah memberi peluang upaya domestikasi burung endemik maleo,” kata Rahmat.

“Dimana anakan maleo hasil sitaan BKSDA yang ditetaskan di inkubator sebagai generasi pertama anakan maleo di Maleo Center DSLNG, bisa kawin dan menetaskan telur lagi sebagai generasi kedua di penangkaran ex situ,” sambungnya.

Rahmat menekankan bahwa hasil penetasan ini merupakan pencapaian luar biasa dari perusahaan yang bergerak di bidang energi, yang tetap menjadikan konservasi maleo sebagai program CSR-nya. Ia berharap maleo hasil penetasan itu bisa hidup dan berkembang, sehingga dapat disimpulkan bahwa upaya domestikasi maleo bisa terjadi seperti halnya ternak unggas.

Baca juga:  Amir - Furqan Resmi Kantongi Model B.1 Dari DPP PKB

Diketahui, konservasi ex situ Maleo Centre PT. DSLNG dalam enam tahun terakhir telah berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan dunia atas upaya pelestarian hewan apendik satu tersebut. Sejak diresmikan pada 5 Juni 2013, fasilitas konservasi maleo PT. Donggi-Senoro LNG yang lebih dikenal dengan nama ‘Maleo Center DSLNG’ telah mendapatkan 3 penghargaan.

Pertama dari United Nations Environmental Programme (UNEP), World Environment Day 5 June 2013, kedua dari Kepala BPLH Banggai, Sulawesi Tengah, dan ketiga dari CSR Award kategori Silver pada 28 November 2014 untuk kategori pelibatan dan pengembangan masyarakat dan lingkungan.

Selain sebagai tempat konservasi, Maleo Center DSLNG juga berfungsi sebagai sarana edukasi lingkungan yang terbuka bagi masyarakat umum.*

 

(van)