Banjir Rendam Empat Kecamatan, Satu Warga Dilaporkan Tewas

oleh -491 views
Tim Penanggulangan Bencana saat melakukan evakuasi warga terdampak banjir di Kecamatan Moilong, Kamis (18/7/2019). [Foto: SANGALU/ Basarnas]

SANGALU, Luwuk – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Banggai sejak Rabu (17/7) malam membuat empat desa di wilayah Kabupaten Banggai terendam banjir, Kamis (18/7).

Bupati Banggai, Herwin Yatim merespon cepat kejadian itu dengan memerintahkan sejumlah pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk melakukan penanggulangan bencana banjir yang merendam ratusan rumah warga tersebut.
Tim penanggulangan bencana yang dipimpin Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Rensly Saadjad langsung turun ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan memberikan bantuan sembako kepada warga terdampak banjir di Kecamatan Batui Selatan, Kecamatan Moilong, Kecamatan Toili dan Kecamatan Toili Barat.

Seorang wanita dievakuasi oleh warga lainnya di Kecamatan Moilong, Kamis (18/7/2019).

Berdasarkan hasil rapat tim penanggulangan bencana dilaporkan terdapat sejumlah desa yang terisolir akibat banjir. Masing-masing desa yang terisolir akibat banjir tersebut antara lain; Desa Mulyo Harjo terdapat 500 kepala keluarga, Desa Arga Kencana terdapat 70 kepala keluarga, Desa Kayuku, Desa Karang Anyer, Desa Sido Makmur, Desa Slamet Harjo, Desa Saluan dan Desa Toili dusun 5, di Kecamatan Moilong.

Baca juga:  Bupati Apresiasi Inovasi 'GAM Banggai' terkait Halte Sampah

Untuk Kecamatan Batui Selatan terdapat tiga desa yakni Desa Ombolu, Desa Sukamaju dan Desa Sukamaju I yang masing-masing berpenduduk sekira 300 kepala keluarga. Sementara itu di Kecamatan Toili banjir merendam Desa Sindang Baru, Desa Singkoyo, Desa Cendana Pura, Kelurahan Cendana dan Sidomukti, Desa Jaya Kencana, Desa Sentral Sari dan Desa Sentral Timur. Banjir juga merendam tiga desa di Kecamatan Toili Barat yakni; Desa Kamiwangi, Desa Makapa, Desa Mekar Sari dan Desa Pasir Lamba.

Seorang wanita lansia dievakuasi tim penanggulangan bencana di Kecamatan Moilong, Kamis (18/7/2019). [Foto: SANGALU/ Basarnas]
Untuk mengatasi kekurangan logistik berupa sembako bagi warga terdampak banjir, pemerintah melalui tim penanggulangan bencana membuat tiga posko terpusat masing-masing di Masjid yang terdapat di Desa Mulyo Harjo, Masjid Desa Karang Anyer unit I untuk Kecamatan Moilong dan di untuk Kecamatan Batui Selatan posko dibuka di kantor kecamatan setempat.

Baca juga:  Pilkada Banggai Menuju Tiga Paslon, setelah AT - FM Kantongi SK PKB

 

Satu Warga Tewas

Laporan warga dari Kecamatan Moilong akibat banjir satu warga dari Desa Bumi Harjo, Kecamatan Moilong, meninggal dunia akibat terseret arus luapan Sungai Kayuku. Korban yang diketahui bernama Wagini (29) disebutkan terseret arus banjir di areal persawahan Desa Bumi Harjo yang tak jauh dari Dusun Kayuku Desa Toili.

Menurut keterangan warga sekitar, sekitar pukul 12.15 WITA, korban bersama rekan – rekannya yang lain, memang sengaja berada di zona banjir tersebut untuk menangkap hewan ternak warga yang hanyut karena tidak dapat dievakuasi pemiliknya. Tanpa sadar luapan Sungai Kayuku yang semakin deras membuat korban terseret arus berenang mengejar buruannya. Korban baru ditemukan sejam kemudian tak jauh dari lokasi hilang dan sudah tidak bernyawa.

Baca juga:  Bahas Isu Daerah, RDP Silahturahmi ke GAM

 

Jalan Putus

Banjir yang melanda wilayah dataran Toili juga membuat sejumlah akses jalan tidak dapat dilalui. Seperti jembatan penghubung Desa Minakarya dan Karya Jaya menuju Desa Banpres, kemudian jembatan. Ruas jalan yang terendam banjir di tiga kecamatan juga tak dapat dilalui kendaraan roda dua maun roda empat.

Jembatan putus di Kecamatan Moilong membuat akses jalan tidak dapat dilalui kendaraan.

Tim penanggulangan bencana yang terdiri dari gabungan OPD dibantu TNI-Polri dan Basarnas terpaksa melakukan evakuasi warga dengan perahu karet.

Jalan amblas di Desa Bangketa, Kecamatan Nuhon, Kamis (18/7/2019). [Foto: SANGALU/ Ist]
Terpisah, hujan juga membuat akses jalan Trans Sulawesi di Desa Bangketa Kecamatan Nuhon amblas dan tak dapat dilalui kendaraan. Warga dari wilayah tersebut terpaksa membuat jembatan sementara agar kendaraan roda dua dan empat bisa melaluinya. Hanya saja, kendaraan besar seperti truk dan bis belum bisa lewat.*

 

(van)