Kisah Danau Tendetung di Banggai Kepulauan

oleh -1.183 views
MEMESONA: Danau Tendetung yang unik di Kabupaten Banggai Kepulauan. [Foto: Yusuf Faisal Isima/ Banggai Post]

Cinta Terlarang Berakhir Petaka

 

Indonesia adalah Negara dengan banyak cerita rakyat dari setiap daerah. Salah satunya, Danau Tendetung, di Banggai Kepulauan. Konon, danau itu terbentuk karena adanya kisah cinta terlarang antara dua sejoli di salah satu desa setempat. Berikut, laporan Yusuf Faisal Isima dari Banggai Kepulauan.

 

DARI penuturan beberapa penduduk lokal yang tinggal di sekitar lokasi danau, Danau Tendetung adalah reinkarnasi dari sebuah ‘kisah cinta terlarang’ antara Sundano dan Kokiap.
Arkian, pada zaman dahulu di desa Kanali, dua pemuda bernama Sundano dan Kokiap saling mencintai. Tapi, cinta keduanya ternyata mendapat pertentangan dari hukum adat di Desa Kanali. Itu dikarenakan perbedaan budaya dan agama kedua sejoli. Keluarga dari si gadis juga menentang hubungan mereka dan enggan memberi restu.

Tapi cinta keduanya telah terpatri dalam sanubari. Sundano dan Kokiap bersepakat hanya kematian yang dapat memisahkan hubungan mereka. Melihat keduanya yang semakin erat, keluarga Kokiap pun berencana memisahkan dengan cara menjodohkan putri mereka pada pria lain.

Mendengar rencana itu, Sundano pun merasa sakit hati dan berusaha menggagalkan pesta pernikahan pacarnya. Maka Ia pun menyusun rencana, lalu menyampaikan kepada Kokiap. Mereka bersepakat untuk melarikan diri dari kampungnya.

Baca juga:  Keliling Eropa, Wabup Mustar Promosi Pariwisata Banggai

Persiapan pesta telah dibuat oleh keluarga Kokiap. Sementara, Sundano mulai mengumpulkan binatang-binatang laut dan memasukkannya ke dalam bambu. Menurut kepercayaan saat itu, bila binatang-binatang dan perlengkapannya diletakkan di rumah orang yang tengah berpesta, maka akan datang malapetaka besar (dalam bahasa Banggai; Tobibil).

Keduanya tau dampak atas perbuatan itu. Namun, cinta mereka lebih kuat dan tak mempedulikan lagi dampak dari petaka yang akan dihadapi. Sundano begitu yakin, bahwa dengan mengumpulkan binatang laut itu, akan memunculkan mata air hingga membanjiri seluruh wilayah desa.

Karena keyakinan tersebut, jauh hari Ia sudah menyiapkan sebuah perahu. Rencananya, perahu tersebut yang akan digunakan untuk melarikan diri bersama kekasihnya ke daerah lain. Impiannya, dapat hidup bahagia dengan pujaan hati di daerah yang baru.

Tepat pada hari pernikahan sang gadis, Sundano pun mulai mengikatkan benda-benda pantangan itu pada tiang utama rumah panggung tempat pelaksanaan pesta pernikahan. Ia sangat berharap akan timbul Tobibil.

Perkiraannya benar. Pesta itu akhirnya buyar dan berantakan dengan timbulnya air bah yang memancar dari bawah bangunan tempat diletakkan benda-benda larangan tadi. Tanpa mempedulikan korban yang berjatuhan, Sundano segera mengajak kekasihnya naik ke perahu yang telah disiapkan. Merekapun pergi mengikuti derasnya air yang keluar dari dalam tanah.

Baca juga:  Air Terjun Salodik Makin Memesona

Rupanya perbuatan mereka itu tidak hanya ditentang oleh kedua orang tua si gadis. Alam dan Tuhan pun ikut murka. Sebab banyak sekali rintangan yang menghadang pelarian kedua remaja ini. Dalam perjalanan, perahu mereka selalu dihadang oleh pohon-pohon yang tumbang. Sehingga mereka harus membelokkan arah ke tempat lain.

Rintangan bertubi-tubi datang, sehingga belokan perahu itupun mencapai berpuluh-puluh tikungan. Pada belokan yang ke seratus, mendadak di depan terdapat sebuah lubang besar, berdiameter kurang lebih lima meter. Lubang itu menelan air bah yang mengalir, termasuk sepasang sejoli tadi bersama perahunya.

Tak seorangpun tahu apa yang dialami oleh dua sejoli tersebut dalam tanah. Yang pasti, cita-cita mereka untuk hidup bahagia bersama, berakhir sudah.

**

Sekira tiga bulan pasca kejadian itu. Di kampung Kanali muncullah dua mata air yang jernih. Jarak antara mata air yang satu dengan mata air yang lainnya kurang lebih 300 meter. Dari kedua mata air tersebut mengalirlah dua sungai yang bermuara di lautan. Oleh penduduk setempat, kedua sungai itu diberi nama Sundano dan Kokiap; yang merupakan nama sepasang sejoli tadi.

Penduduk berkeyakinan bahwa kedua mata air itu adalah penjelmaan dari jasad pasangan ini. Dalam pemikiran mereka, bisa jadi saat air masuk ke dalam tanah perahu yang ditumpangi kedua sejoli itu pecah. Sehingga tubuh mereka terlempar dan terpisah, pada posisi kedua mata air.

Baca juga:  82 Penumpang KM Sumber Raya 03 Diberangkatkan ke Balut

Nasib kedua sejoli ini memang telah berakhir dengan tragis, tetapi keanehan-keanehan muncul setelah peristiwa memilukan itu. Setiap enam bulan sekali, air yang mengalir dari awal air bah menuju lubang besar tersebut seperti tersumbat sesuatu. Sehingga mengakibatkan seluruh daratan tergenang air menjadi sebuah danau, yang dikenal dengan nama Danau Tendetung.

Enam bulan kemudian air tersebut mengering bagai ditelan bumi. Kemudian tampaklah air sungai yang berkelok-kelok. Ada sekira seratus kelokan air sungai. Uniknya, setiap surut atau kering, pada mata air sungai yang berkelok seratus tadi, bermunculan ikan-ikan yang disebut penduduk ikan Telendek.

Karena kemunculan ikan itu, banyak penduduk yang turun ke Danau Tendetung. Selain mencari ikan, mereka juga berdarmawisata. Ini membuat air di sungai Sundano dan Kekiap menjadi agak keruh. Karena hal ini terjadi secara rutin, penduduk sekitar termasuk suku Bajo yang memanfaatkan air Sundano dan Kekiap bisa menandai; kapan air danau kering dan kapan air danau naik.*

 

Sumber: banggaipost.com