Oknum Petugas PLN Raup Rp159 juta dari 207 Pelanggan Baru

oleh -302 views
Kapolres Banggai AKBP Moch Sholeh SIk saat memaparkan kronologis pungutan liar oknum petugas PLN, Kamis (10/1) di Mapolres Banggai. [Foto: SANGALU/Haeruddin]

SANGALU, Luwuk – Kapolres Banggai AKBP Moch. Sholeh Sik meminta masyarakat agar melaporkan ke pihak kepolisian jika mengetahui adanya dugaan pungutan liar (Pungli) di lingkungan masing-masing. Sebab, perbuatan itu akan diproses hukum sesuai peraturan yang berlaku.

Seperti yang terjadi di Desa Ondo-ondolu, Kecamatan Batui, beberapa waktu lalu. Dimana, seorang petugas PLN area Luwuk yang bertugas di wilayah tersebut melakukan punggutan biaya pasang meteran baru di atas harga normal yang telah ditetapkan pemerintah.

Jordan Christo Lumi (25), yang bertugas sebagai kepala kantor jaga sub rayon Batui ini pada bulan Juli 2018 diamankan bersama barang bukti satu bundle daftar pelanggan yang melakukan pemasangan meteran dan instalasi baru di wilayah Batui. Polisi juga mengamankan satu bundel cicilan biaya penyambungan dan satu lembar rincian biaya pemasangan listrik baru, serta sembilan lembar kwitansi pembayaran dan penyerahan uang dari Setiowati selaku bendahara Desa Ondo-Ondolu.

Baca juga:  RPD Sulteng Minta Bupati Copot Kepala BRSUD Banggai

Kapolres Sholeh menjelaskan kronologis kejadian saat itu, tersangka memulai aksi pungutannya saat Kepala Desa Ondo-ondolu, Suwarno mengajukan permohonan penyambungan meteran listrik baru ke petugas setempat. Dari 294 calon pelanggan yang diajukan, hanya 207 orang yang menyetujui dan melaksanakan pemasangan meteran listrik baru.

Saat sosialisasi terkait penyambungan listrik baru, Jordan Christo M. Lumi selaku kepala kantor menetapkan harga penyambungan listrik baru sebesar Rp2,3 juta untuk penyambungan plus instalasi listrik dengan daya 900 Va (volt amper), dan Rp1,8 juta untuk penyambungan meteran listrik saja tanpa instalasi. Demikian pula untuk penyambungan listrik dengan daya 1.300 Va, dipatok Rp2,7 juta untuk penyambungan plus instalasi listrik dalam rumah, dan Rp2,2 juta untuk penyambungan tanpa instalasi.

Baca juga:  Sarang Judi di Toili Barat, Digerebek Polisi

Padahal, ketentuan yang ada, biaya yang ditentukan pemerintah tidak sebesar itu yakni; untuk penyambungan listrik baru dengan daya 900 Va hanya sebesar Rp946 ribu, sementara untuk daya 1.300 Va sebesar Rp1.374.000.

“Dari harga yang ditetapkan itu, perpelanggan tersangka memperoleh keuntungan sebesar Rp757.000 untuk pelanggan dengan daya 900 Va. Sementara untuk pemasangan daya 1.300 Va, tersangka memperoleh keuntungan sebesar Rp776.000 per pelanggan. Jadi dari total 207 pelanggan, tersangka telah berhasil meraup keuntungan sebesar Rp159.305.000,” terang kapolres.

Setelah menjalani berbagai pemeriksaan dan didukung keterangan 20 saksi serta seorang tenaga ahli, polisi akhirnya menetapkan tersangka dan telah melimpahkan berkas perkara tersebut ke Kejaksaan Negeri Banggai pada tanggal 11 Desember 2018.

Baca juga:  Tandur Nilam, Alternatif Jitu Tetap Produktif saat COVID-19

Tersangka dijerat dengan pasal 12 huruf (e) Undang-undang nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas undang-undang nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi dengan ancaman hukuman dipidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 20 tahun, dan pidana denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar.

“Kepada masyarakat kami sampaikan untuk melaporkan ke kepolisian jika terdapat pungutan liar di wilayah masing-masing. Polisi selalu siap menerima laporan masyarakat dalam satu kali dua puluh empat jam,” tandasnya.

Himbauan itu disampaikan kapolres karena tidak menutup kemungkinan, biaya pemasangan listrik baru di wilayah lainnya juga diberlakukan sama oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab yang bekerja di PT. PLN Suluttenggo area Luwuk.*

(van)